Senin, 03 Oktober 2011

Selingkuh dibalas selingkuh - 5

Pak Joko yang terangsang sudah mulai grepe-grepe pantatku dan mulai menyingkap bagian bawah kimonoku. Namun kutepis tangannya.

"Ntar dong Pak, baru juga makan, masih penuh nih perutnya, nggak enak"
"Ya sudah nggak apa-apa pemanasan aja dulu neng, boleh ya" jawabnya sambil membuka bajunya sendiri.

Dia menyuruhku jongkok di depan penis hitamnya yang setengah ereksi. Akupun menggenggam penis itu dan mulai memainkan lidahku, kuawali dengan menjilati hingga basah kepala penisnya, lalu menciumi bagian batangnya hingga pelirnya. Kantong bola itu kuemut disertai mengocok batangnya dengan tanganku.

Perlahan tapi pasti benda itu ereksi penuh karena teknik oralku. Desahan Yessica tidak terdengar lagi, kulirikan mataku melihatnya, ternyata, keduanya sedang asyik berfrech-kiss. Posisi mereka tidak berubah, Yessica hanya menengokkan kepalanya ke samping saja agar bisa saling memagut bibir dengan Taryo.

Pak Joko menikmati sekali permainan lidahku, dia terus merem-melek dan mendesah tak henti-hentinya saat penisnya kukulum dan kuhisap-hisap. Lama juga aku mengkaraokenya, sampai mulutku pegal, akhirnya dia suruh aku berhenti agar tidak cepat-cepat keluar. Saat itu Taryo dan Yessica sudah ber-posisi 69 dengan pria di atas. Yessica masih mengenakan kimononya yang sudah terbuka sana-sini memainkan penis Taryo yang menggantung dengan mulutnya. Sedangkan Taryo sibuk melumat vagina Yessica, klitorisnya dijilati sehingga tubuh Yessica menegang kenikmatan. Kulihat paha mulusnya menegang dan menjepit kepala Taryo.

Setelah berdiri Pak Joko memagut bibirku yang kubalas dengan tak kalah hot, aku memainkan lidahku sambil tanganku memijat penisnya. Tangannya meraih tali pinggangku dan menariknya lepas hingga kimonoku terbuka. Sambil terus berciuman tangannya menggeser kain yang menyangga pada kedua bahuku maka melorotlah kimono itu, ditubuhku pun sudah tidak menempel apapun lagi.

Aku melepas ciuman untuk mengajaknya ke ranjang agar lebih nyaman. Di sebelah Yessica dan Taryo yang masih ber-69 kutelungkupkan tubuh telanjangku dan menaruh kepalaku di atas kedua lengan terlipat seperti posisi mau dipijat, dari sini dapat kulihat jelas ekspresi wajah Yessica yang meringis menikmati vaginanya dilumat Taryo, sementara dia memainkan penis yang menggantung di atas wajahnya. Pak Joko menaikiku lalu mencium juga mengelusi punggungku, aku mendesah merasakan rangsangan erotis itu. Ciumannya makin turun sampai ke pantatku, disapukannya lidahnya pada bongkahan yang putih sekal itu, diciumi, bahkan digigit sehingga aku menjerit kecil.

Mulutnya turun ke bawah lagi, menciumi setiap jengkal kulit pahaku. Betis kananku dia tekuk, lalu dia emuti jari-jari kakiku. Beberapa saat kemudian dia menekuk paha kananku ke samping sehingga pahaku lebih terbuka. Aku mulai merasakan jari-jarinya menyentuh vaginaku, dua jari masuk ke liangnya, satu jari menggosok klitorisku. Rambutku dia sibakkan dan aku merasakan hembusan nafasnya terasa dekat wajahku. Leher dan tengukku digelikitik pakai lidahnya, juga telingaku, aku tertawa-tawa kecil sambil mendesah dibuatnya. Aku suka rangsangan dengan sensasi geli seperti ini.

Sementara di sebelah kami semakin seru karena Taryo sudah menindih Yessica dan memacu tubuhnya dengan cepat. Yessica menggelinjang dan mengerang setiap kali Taryo menyentakkan pinggulnya naik-turun, tangannya kadang meremasi sprei dan kadang memeluk erat si Taryo. Pak Joko mengangkat pantatku ke atas, kutahan dengan lututku dan kupakai telapak tangan untuk menyangga tubuh bagian atasku. Sesaat kemudian aku merasakan benda tumpul menyeruak ke vaginaku.

Seperti biasa aku meringis dengan mata terpejam menghayati moment-moment penetrasi itu. Aku tak kuasa menahan desahanku menerima hujaman-hujaman penisnya ke dalam tubuhku. Sensasi yang tak terlukiskan terutama waktu dia memutar-mutar penisnya di vaginaku, rasanya seperti sedang dibor saja, aku tak rela kalau sensasi ini cepat-cepat berlalu, makannya aku selalu mendesah:

"Terus.. Terus.. Jangan pernah stop!"

Yessica dan Taryo berguling ke samping sehingga kini Yessica yang berada di atas dan lebih memegang kendali. Dengan liarnya dia menggoyangkan tubuhnya di atas Taryo, diraihnya tangan Taryo untuk meremas payudaranya. Wow.. Kali ini dia bahkan lebih binal dan agresif dari tadi siang, di tengah erangannya dia memaki-maki pacarnya yang menyakiti hatinya.

"Randy bangsat.. Ahh.. Lu kira aku uuhh.. nggak bisa.. Nyeleweng apa! Engghh.. Terus Bang.. Entot gua buat ngebales.. Aahh.. Cowok sialan itu!!"

Kocokan Pak Joko padaku bertambah cepat dan kasar, otomatis eranganku pun tambah tak karuan, sesekali bahkan aku menjerit kalau sodokannya keras. Karena sudah tak bisa bertahan lagi, aku mengalami orgasme dahsyat, sementara Pak Joko dia tak mempedulikan kelelahanku, justru semakin gencar menyodokku. Tanpa melepas penisnya dia baringkan tubuhku menyamping dan menaikkan kaki kiriku ke pundaknya, dengan begini penisnya menancap lebih dalam ke vaginaku. Selangakanku yang sudah basah kuyup menimbulkan bunyi kecipak setiap menerima tusukan.

Dalam posisi ini aku bisa menyaksikan Taryo dan Yessica tanpa menoleh. Payudaranya yang berayun-ayun akibat goyangan badannya mendapat kuluman Taryo, beberapa kali kulumannya lepas karena Yessica menggoyangkan tubuhnya dengan kencang, namun dengan sabar Taryo menangkapnya dengan mulut dan mengulumnya lagi.

"Yahh.. Entot aku Bang.. Sedot susuku sampai puas.. Ahh.. Perlakukan aku sesukamu.. Biar bajingan itu tahu rasa!!" erangnya terengah-engah melampiaskan dendamnya

Sambil terus menggenjot, Pak Joko menyorongkan kepalanya ke payudaraku, putingnya ditangkap dengan mulut kemudian digigit dan ditarik-tarik, aku merintih dan meringis karena nyeri, namun juga merasa nikmat. Sementara situasi di sebelah nampaknya makin seru, kalau tadi siang Yessica didominasi oleh mereka berdua, kini sebaliknya Yessicalah yang lebih mendominasi permainan dan justru Taryo dibuat ngos-ngosan oleh keliarannya. Setelah menggelinjang dan mendesah ketika mencapai klimaks, dia mencabut penis itu dari vaginanya, lalu menggeser dirinya ke bawah dan menjilati serta mengulum penis itu seperti orang kelaparan. Taryo sampai merem-melek dan mendesah-desah dibuatnya.

Dalam jangka waktu lima menitan cairan putih kentalnya sudah menyemprot bagaikan kilang minyak, bercipratan membasahi wajah Yessica, Yessica terus mengocok dengan tangannya, mulutnya dibuka membiarkan cipratan itu masuk ke mulutnya, rambutnya yang panjang itu juga terkena cipratan sperma. Setelah semprotannya reda, dia menjilati sisanya yang masih menetes, kepala penis Taryo yang seperti jamur hitam itu disedot-sedot. Sesudahnya dia mengelap cipratan di wajahnya dengan jarinya, dihisapnya jari-jarinya yang belepotan sperma itu, sisanya dibalurkan merata di wajahnya. Kemudian dia rebahan di atas tubuh Taryo, kepalanya bersandar di dadanya, keduanya berpelukan seperti sepasang kekasih.

Aku merasakan sebentar lagi giliran aku klimaks, dinding vaginaku makin berdenyut.

"Ayoo.. Pak, terus.. Citra sudah mau..!" desahku dengan nafas tersenggal-senggal.

Tak lama kemudian aku merasakan tubuhku makin terbakar, aku menggeliat sambil memeluk guling erat-erat. Desahan panjang menandakan orgasmeku bersamaan dengan mengucurnya cairan cintaku membasahi selangkanganku. Dia melepas penisnya dan menurunkan kakiku, spermanya dikeluarkan di dadaku, setelah itu dia ratakan cairan kental itu ke seluruh payudaraku hingga basah mengkilap.

Belum habis rasa lelahku, dia sudah tempelkan kepala penisnya di bibirku, menyuruh membersihkannya. Dengan sisa-sisa tenaga aku genggam benda itu dan menyapukan lidahku dengan lemas, kujilat bersih dan sisa-sisa spermanya kutelan saja. Akhirnya kami pun terbaring bersebelahan, keringatku bercucuran dengan deras, dadaku naik-turun dengan cepat karena ngos-ngosan.

"Ck.. Ck.. Ck.. What a naughty girl you are, Ci!" terdengar Yessica berkata dari sebelahku.

Aku menoleh ke arahnya yang masih berbaring di tubuh Taryo, dan membalasnya tersenyum. Kami masih sempat ngobrol-ngobrol beberapa menit sebelum satu-persatu tertidur kecapekan.

Pagi jam sembilan aku terbangun dan menemukan diriku telanjang tertutup selimut, tidak ada siapapun di kamar semua sudah pergi. Jendela sudah terbuka sehingga sinar matahari menerangi kamar ini, dari luar terdengar suara kecipak air. Aku turun dari ranjang dan melihat ke luar jendela, di kolam Yessica sedang berenang sendirian, tanpa sehelai benangpun.

"Yes.. Ooii!" sapaku sedikit teriak sambil melambai, "Mana tuh dua orang itu!?"

Dia menoleh ke asal suara dan balas melambai, "Nggak tahu tuh, kalau Pak Joko tadi lagi nyapu di depan, sini Ci, segar loh renang pagi gini!"

Aku keluar dari kamar dan menyusulnya ke kolam. Baru turun dari tangga, aku hampir bertabrakan dengan Pak Joko yang muncul di sebelah dengan memegang sapu, dia baru masuk ke sini setelah selesai membersihkan halaman depan.

Bersambung . . . .

Selingkuh dibalas selingkuh - 6

"Aduh, Bapak, ngagetin aja.. Hampir deh!" kataku sambil mengelus dada, "O ya, Taryo hari ini nggak bisa ke sini ya katanya?"
"Haduh.. Bapak juga kaget Neng nongolnya mendadak gini.. Taryo ya, tadi pagi dia pulang ke kampungnya lagi, tapi memang dia bilang hari ini nggak bisa ke sini soalnya entar siang majikannya datang!"

Kebetulan dia ingin minta ijin padaku untuk menengok cucunya yang baru sembuh di desa, tapi sesudah makan siang dia berjanji akan kembali. Setelah dia pergi tinggallah kami dua gadis di villa ini.

Hampir sejam lamanya kami berenang dan mengobrol di kolam. Setelah mandi bersih aku memasak dua bungkus mie Korea untuk sarapan. Habis makan aku mengajaknya jalan-jalan mengelilingi kompleks sekalian menikmati suasana pegunungan yang tenang dan sejuk. Sepanjang jalan, hampir semua orang yang kami temui (terutama pria) memperhatikan kami, bahkan beberapa sempat menggoda dengan kata-kata. Tidak heran sih, karena aku memakai pakaian kemarin yang seksi itu, sedangkan Yessica memakai rok mini warna hitam dengan atasan kaos u can see kuning yang ketat sehingga mencetak bentuk badan dan payudaranya yang menantang. Untung hari ini tidak banyak angin, kalau tidak rok yang bahannya lembut itu sudah tertiup angin kemana-mana.

Kami sih berlagak cuek aja dengan tatapan-tatapan nakal mereka. Siapa sangka justru penjaga villa yang biasa kurang dianggap malah lebih beruntung dibanding om-om dan pemuda kaya yang kami temui. Ketika pulang kami melihat di villa sebelah sudah terparkir dua buah mobil dan beberapa anak-anak asyik bermain di balik pagar. Majikan Taryo dan familinya sudah datang, berarti dia tidak bisa menemani kami lagi karena sibuk melayani mereka.

Di rumah, Yessica meminta kalau nanti ML lagi agar kembali disyuting, dia juga menyayangkan kenapa aku tidak mensyutingnya semalam, padahal menurut dia semalam itu sangat hot adegannya. Iya juga sih pikirku, tapi kan waktu itu nafsu sudah diubun-ubun sampai lupa mau mensyuting juga.

Jam tigaan, setelah Pak Joko kembali, Yessica memintaku mensyutingnya lagi. Kali ini settingnya di ruang tengah tempat Taryo menggarapku kemarin. Yessica dan Pak Joko duduk bersebelahan di sofa, begitu kuberi aba-aba, mereka berpelukan, Pak Joko melumat bibir Yessica dan lidah mereka mulai beradu. Sambil berciuman tangan Pak Joko meraba-raba paha mulusnya semakin ke atas menyingkap roknya yang pendek, Yessica pun tidak kalah aktif, dia meremasi selangkangan Pak Joko dari luar celananya. Kemudian Pak Joko menjatuhkan tubuhnya ke depan menindih Yessica. Mereka mulai saling melucuti pakaian pasangannya sampai bugil.

Yessica dua kali orgasme di atas sofa, selanjutnya kami pindah ke kamar mandi, mereka bercinta di bawah siraman shower, Yessica menyandarkan tangannya di tembok menerima sodokan Pak Joko dari belakangnya. Sambil menggenjot, Pak Joko menyuruhku mengambil sabun cair dekat bathtub, dia menuangkannya ke tangannya lalu membalurinya ke tubuh Yessica. Tangannya yang kasar itu menggosok seluruh tubuhnya, paha, pantat, perut, naik ke payudaranya, lama-lama tubuh sabun cair itu semakin berbusa di tubuh Yessica.

Usai menyabuni Yessica, dia membalik tubuhnya menghadapnya. Kaki kanannya diangkat sepinggang, penisnya diarahkan memasuki lubang senggamanya. Dengan gencarnya dia mengocok sepupuku dalam posisi berdiri. Tak lama kemudian Yessica menengadah dan mengerang panjang mengalahkan suara shower.

"Oohh.. Keluar Pak!!" sambil mempererat pelukannya.

Yessica berlutut dan menerima semprotan sperma Pak Joko di wajahnya. Adegan di kamar mandi ini menyudahi persenggamaan siang ini. Malam harinya kami main threesome di kamarku. Pak Joko berbaring sambil menikmati vagina Yessica yang naik ke wajahnya, sementara aku sibuk melayani penisnya dengan mulut dan lidahku. Semakin kukulum semakin keras dan berdenyut benda itu, kulakukan itu sepuluh menit lamanya. Sayang sekali kalau cepat-cepat orgasme sedangkan aku belum mencapai kepuasanku. Akupun naik ke selangakangannya dan memasukkan benda itu ke vaginaku.

"Uuugghh..!" desahku saat benda itu menusuk ke dalam.

Di sela-sela kegiatan menikmati vagina sepupuku, dia juga mendesah merasakan jepitan vaginaku terhadap penisnya. Liarnya goyanganku membuatnya makin liar memperlakukan Yessica, jilatan-jilatannya nampak lebih seru sampai suara menyeruput cairannya pun terdengar. Tangannya dijulurkan ke atas meraih kedua payudaranya, meremasnya sambil terus menyedot vaginanya.

"Ahh.. Ohh.. Pak!" desah Yessica sambil menggeliat-geliat.

Setelah Yessica mencapai orgasme, Pak Joko mengajak ganti posisi. Kali ini aku nungging di atas Yessica dengan gaya 69, kembali Pak Joko menusukku dari belakang, sesekali kurasakan lidah Yessica pada vaginaku, di bawah sana dia sedang menjilati vagina dan penis Pak Joko yang sedang keluar masuk. Sebagai responnya, aku juga menjilati vaginanya yang basah oleh cairan orgasme dan ludah. Aku menjilati bibir vaginanya hingga klitorisnya yang merah itu. Hhmm.. Dia memakai pembersih kewanitaan dengan merek yang sama seperti punyaku, aku sudah hafal dengan aromanya.

Tangan Pak Joko mulai merayap di payudaraku, memilin putingnya dan memijatinya. Aku tidak bisa menahan lebih lama lagi sesuatu yang mau meledak dalam diriku, aku mengerang panjang saat mencapai puncak. Genjotannya masih berlangsung beberapa menit ke depan sehingga memberiku kenikmatan lebih lama. Selesai membawaku ke puncak, kini dia mengincar Yessica. Dia rebahan lalu menyuruh Yessica menaiki penisnya yang masih mengacung tegak, benda itu basah mengkilap berlumuran lendirku. Dia mengisi vaginanya dengan penis itu diiringi desahan, setelah berhasil menancapkannya tanpa buang waktu lagi dia menggoyangkan tubuhnya. Pak Joko sendiri turun menyentak-nyentakkan pinggulnya ke atas merespon goyangan badannya.

Birahiku mulai naik lagi, maka aku menaiki wajah Pak Joko dalam posisi berhadapan dengan Yessica. Tanpa diminta lagi, lidahnya sudah beraksi menyusuri organ kewanitaanku, jilatannya diselingi kocokan jari tangan yang bergerak liar di dalam vaginaku, desahanku pun semakin menjadi-jadi. Kedua telapak tanganku saling genggam dengan Yessica. Rasa nikmatku kulampiaskan dengan memagut bibir sepupuku, lidah bertemu lidah lalu saling jilat. Lidah Pak Joko bukan saja menjilati vaginaku, duburku pun tidak luput darinya.

"Yeeaah, gitu Pak.. Terus.. Yahh.. Jilati aku sepuasmu!" demikian desahku menghayati setiap jilatannya.

Orgasmeku hanya lebih beberapa detik dari Yessica, tubuh kami menggelinjang di atas tubuh Pak Joko diiringi erangan yang sahut-menyahut. Cairan yang meleleh dari vaginaku dilahapnya dengan rakus sekali sampai terdengar suara menyeruputnya. Yessica mencabut penis itu dari vaginanya kemudian rebahan di antara paha Pak Joko mengoral penisnya. Aku juga merundukkan badanku ke depan mendekati penis yang masih tegak itu. Berdua kami melayani Adik kecilnya dengan kocokan, jilatan, dan hisapan selama lima menit hingga isinya muncrat ke wajah kami. Kami masih terus mengocok-ngocoknya hingga tetes terakhir, pemiliknya sampai berkelejotan dan melenguh nikmat akibat perbuatan kami. Maninya sudah tidak sebanyak kemarin sehingga kami sedikit berebutan untuk mendapatkannya.

Kami terkulai lemas, tubuh kami sudah berkeringat, nafas pun sudah putus-putus.

"Hebat juga ya Bapak ini, bisa tahan segitu lama sama dua cewek" pujiku.
"Ahh.. Neng ini, sebenernya sih berkat jamu tadi sore hehehe!" katanya dengan tersipu malu.
"Oo.. Pantes tadi nafasnya bau gitu, tapi hebat juga ya jamunya Pak" sahut Yessica sambil merapat dan menyandarkan kepalanya pada dadanya.

Sungguh seperti kaisar saja Pak Joko malam itu, tidur diapit dua gadis muda dan cantik, suatu hal yang membuat banyak cowok iri tentunya. Dia juga berterima kasih pada kami karena telah membuatnya merasa muda kembali di usianya. Besoknya jam sebelas kami sudah berangkat kembali ke Jakarta. Tidak lupa kami memberi ciuman perpisahan padanya, Yessica pipi kiri dan aku pipi kanan, lalu dibalasnya dengan menepuk pantat kami bersamaan.

Hari itu juga, sore harinya kami membawa rekaman handycam itu ke Verna untuk ditransfer dalam bentuk vcd (komputer Verna memang paling lengkap walau sebenarnya milik adiknya yang sedang kuliah di luar negeri). Cd masternya dibawa Yessica sebagai koleksi pribadinya, copy-nya untuk kami, tentunya hanya untuk kalangan kita-kita saja. Dia mengabariku seminggu setelah kepulangannya bahwa dia telah memutuskan hubungan dengan pacarnya setelah sebelumnya dia mengajak cowoknya menonton bersama rekaman di villa itu sebagai pembalasannya. Kata-kata terakhir pada cowoknya sebelum berpisah adalah...

"Kalau lu bisa main gila, gua juga bisa bikin yang lebih gila!"

Sekarang ini dia sudah mempunyai pacar baru yang lebih muda empat tahun darinya, sifatnya juga lembek, biar lebih gampang dikendalikan katanya. Duh.. Dasar Yessica, jadi woman rule nih ceritanya. O, ya met skripsi juga Yes, good luck and success.


Tamat

Selingkuh dibalas selingkuh - 6

"Aduh, Bapak, ngagetin aja.. Hampir deh!" kataku sambil mengelus dada, "O ya, Taryo hari ini nggak bisa ke sini ya katanya?"
"Haduh.. Bapak juga kaget Neng nongolnya mendadak gini.. Taryo ya, tadi pagi dia pulang ke kampungnya lagi, tapi memang dia bilang hari ini nggak bisa ke sini soalnya entar siang majikannya datang!"

Kebetulan dia ingin minta ijin padaku untuk menengok cucunya yang baru sembuh di desa, tapi sesudah makan siang dia berjanji akan kembali. Setelah dia pergi tinggallah kami dua gadis di villa ini.

Hampir sejam lamanya kami berenang dan mengobrol di kolam. Setelah mandi bersih aku memasak dua bungkus mie Korea untuk sarapan. Habis makan aku mengajaknya jalan-jalan mengelilingi kompleks sekalian menikmati suasana pegunungan yang tenang dan sejuk. Sepanjang jalan, hampir semua orang yang kami temui (terutama pria) memperhatikan kami, bahkan beberapa sempat menggoda dengan kata-kata. Tidak heran sih, karena aku memakai pakaian kemarin yang seksi itu, sedangkan Yessica memakai rok mini warna hitam dengan atasan kaos u can see kuning yang ketat sehingga mencetak bentuk badan dan payudaranya yang menantang. Untung hari ini tidak banyak angin, kalau tidak rok yang bahannya lembut itu sudah tertiup angin kemana-mana.

Kami sih berlagak cuek aja dengan tatapan-tatapan nakal mereka. Siapa sangka justru penjaga villa yang biasa kurang dianggap malah lebih beruntung dibanding om-om dan pemuda kaya yang kami temui. Ketika pulang kami melihat di villa sebelah sudah terparkir dua buah mobil dan beberapa anak-anak asyik bermain di balik pagar. Majikan Taryo dan familinya sudah datang, berarti dia tidak bisa menemani kami lagi karena sibuk melayani mereka.

Di rumah, Yessica meminta kalau nanti ML lagi agar kembali disyuting, dia juga menyayangkan kenapa aku tidak mensyutingnya semalam, padahal menurut dia semalam itu sangat hot adegannya. Iya juga sih pikirku, tapi kan waktu itu nafsu sudah diubun-ubun sampai lupa mau mensyuting juga.

Jam tigaan, setelah Pak Joko kembali, Yessica memintaku mensyutingnya lagi. Kali ini settingnya di ruang tengah tempat Taryo menggarapku kemarin. Yessica dan Pak Joko duduk bersebelahan di sofa, begitu kuberi aba-aba, mereka berpelukan, Pak Joko melumat bibir Yessica dan lidah mereka mulai beradu. Sambil berciuman tangan Pak Joko meraba-raba paha mulusnya semakin ke atas menyingkap roknya yang pendek, Yessica pun tidak kalah aktif, dia meremasi selangkangan Pak Joko dari luar celananya. Kemudian Pak Joko menjatuhkan tubuhnya ke depan menindih Yessica. Mereka mulai saling melucuti pakaian pasangannya sampai bugil.

Yessica dua kali orgasme di atas sofa, selanjutnya kami pindah ke kamar mandi, mereka bercinta di bawah siraman shower, Yessica menyandarkan tangannya di tembok menerima sodokan Pak Joko dari belakangnya. Sambil menggenjot, Pak Joko menyuruhku mengambil sabun cair dekat bathtub, dia menuangkannya ke tangannya lalu membalurinya ke tubuh Yessica. Tangannya yang kasar itu menggosok seluruh tubuhnya, paha, pantat, perut, naik ke payudaranya, lama-lama tubuh sabun cair itu semakin berbusa di tubuh Yessica.

Usai menyabuni Yessica, dia membalik tubuhnya menghadapnya. Kaki kanannya diangkat sepinggang, penisnya diarahkan memasuki lubang senggamanya. Dengan gencarnya dia mengocok sepupuku dalam posisi berdiri. Tak lama kemudian Yessica menengadah dan mengerang panjang mengalahkan suara shower.

"Oohh.. Keluar Pak!!" sambil mempererat pelukannya.

Yessica berlutut dan menerima semprotan sperma Pak Joko di wajahnya. Adegan di kamar mandi ini menyudahi persenggamaan siang ini. Malam harinya kami main threesome di kamarku. Pak Joko berbaring sambil menikmati vagina Yessica yang naik ke wajahnya, sementara aku sibuk melayani penisnya dengan mulut dan lidahku. Semakin kukulum semakin keras dan berdenyut benda itu, kulakukan itu sepuluh menit lamanya. Sayang sekali kalau cepat-cepat orgasme sedangkan aku belum mencapai kepuasanku. Akupun naik ke selangakangannya dan memasukkan benda itu ke vaginaku.

"Uuugghh..!" desahku saat benda itu menusuk ke dalam.

Di sela-sela kegiatan menikmati vagina sepupuku, dia juga mendesah merasakan jepitan vaginaku terhadap penisnya. Liarnya goyanganku membuatnya makin liar memperlakukan Yessica, jilatan-jilatannya nampak lebih seru sampai suara menyeruput cairannya pun terdengar. Tangannya dijulurkan ke atas meraih kedua payudaranya, meremasnya sambil terus menyedot vaginanya.

"Ahh.. Ohh.. Pak!" desah Yessica sambil menggeliat-geliat.

Setelah Yessica mencapai orgasme, Pak Joko mengajak ganti posisi. Kali ini aku nungging di atas Yessica dengan gaya 69, kembali Pak Joko menusukku dari belakang, sesekali kurasakan lidah Yessica pada vaginaku, di bawah sana dia sedang menjilati vagina dan penis Pak Joko yang sedang keluar masuk. Sebagai responnya, aku juga menjilati vaginanya yang basah oleh cairan orgasme dan ludah. Aku menjilati bibir vaginanya hingga klitorisnya yang merah itu. Hhmm.. Dia memakai pembersih kewanitaan dengan merek yang sama seperti punyaku, aku sudah hafal dengan aromanya.

Tangan Pak Joko mulai merayap di payudaraku, memilin putingnya dan memijatinya. Aku tidak bisa menahan lebih lama lagi sesuatu yang mau meledak dalam diriku, aku mengerang panjang saat mencapai puncak. Genjotannya masih berlangsung beberapa menit ke depan sehingga memberiku kenikmatan lebih lama. Selesai membawaku ke puncak, kini dia mengincar Yessica. Dia rebahan lalu menyuruh Yessica menaiki penisnya yang masih mengacung tegak, benda itu basah mengkilap berlumuran lendirku. Dia mengisi vaginanya dengan penis itu diiringi desahan, setelah berhasil menancapkannya tanpa buang waktu lagi dia menggoyangkan tubuhnya. Pak Joko sendiri turun menyentak-nyentakkan pinggulnya ke atas merespon goyangan badannya.

Birahiku mulai naik lagi, maka aku menaiki wajah Pak Joko dalam posisi berhadapan dengan Yessica. Tanpa diminta lagi, lidahnya sudah beraksi menyusuri organ kewanitaanku, jilatannya diselingi kocokan jari tangan yang bergerak liar di dalam vaginaku, desahanku pun semakin menjadi-jadi. Kedua telapak tanganku saling genggam dengan Yessica. Rasa nikmatku kulampiaskan dengan memagut bibir sepupuku, lidah bertemu lidah lalu saling jilat. Lidah Pak Joko bukan saja menjilati vaginaku, duburku pun tidak luput darinya.

"Yeeaah, gitu Pak.. Terus.. Yahh.. Jilati aku sepuasmu!" demikian desahku menghayati setiap jilatannya.

Orgasmeku hanya lebih beberapa detik dari Yessica, tubuh kami menggelinjang di atas tubuh Pak Joko diiringi erangan yang sahut-menyahut. Cairan yang meleleh dari vaginaku dilahapnya dengan rakus sekali sampai terdengar suara menyeruputnya. Yessica mencabut penis itu dari vaginanya kemudian rebahan di antara paha Pak Joko mengoral penisnya. Aku juga merundukkan badanku ke depan mendekati penis yang masih tegak itu. Berdua kami melayani Adik kecilnya dengan kocokan, jilatan, dan hisapan selama lima menit hingga isinya muncrat ke wajah kami. Kami masih terus mengocok-ngocoknya hingga tetes terakhir, pemiliknya sampai berkelejotan dan melenguh nikmat akibat perbuatan kami. Maninya sudah tidak sebanyak kemarin sehingga kami sedikit berebutan untuk mendapatkannya.

Kami terkulai lemas, tubuh kami sudah berkeringat, nafas pun sudah putus-putus.

"Hebat juga ya Bapak ini, bisa tahan segitu lama sama dua cewek" pujiku.
"Ahh.. Neng ini, sebenernya sih berkat jamu tadi sore hehehe!" katanya dengan tersipu malu.
"Oo.. Pantes tadi nafasnya bau gitu, tapi hebat juga ya jamunya Pak" sahut Yessica sambil merapat dan menyandarkan kepalanya pada dadanya.

Sungguh seperti kaisar saja Pak Joko malam itu, tidur diapit dua gadis muda dan cantik, suatu hal yang membuat banyak cowok iri tentunya. Dia juga berterima kasih pada kami karena telah membuatnya merasa muda kembali di usianya. Besoknya jam sebelas kami sudah berangkat kembali ke Jakarta. Tidak lupa kami memberi ciuman perpisahan padanya, Yessica pipi kiri dan aku pipi kanan, lalu dibalasnya dengan menepuk pantat kami bersamaan.

Hari itu juga, sore harinya kami membawa rekaman handycam itu ke Verna untuk ditransfer dalam bentuk vcd (komputer Verna memang paling lengkap walau sebenarnya milik adiknya yang sedang kuliah di luar negeri). Cd masternya dibawa Yessica sebagai koleksi pribadinya, copy-nya untuk kami, tentunya hanya untuk kalangan kita-kita saja. Dia mengabariku seminggu setelah kepulangannya bahwa dia telah memutuskan hubungan dengan pacarnya setelah sebelumnya dia mengajak cowoknya menonton bersama rekaman di villa itu sebagai pembalasannya. Kata-kata terakhir pada cowoknya sebelum berpisah adalah...

"Kalau lu bisa main gila, gua juga bisa bikin yang lebih gila!"

Sekarang ini dia sudah mempunyai pacar baru yang lebih muda empat tahun darinya, sifatnya juga lembek, biar lebih gampang dikendalikan katanya. Duh.. Dasar Yessica, jadi woman rule nih ceritanya. O, ya met skripsi juga Yes, good luck and success.


Tamat

Selingkuh dibalas selingkuh - 5

Pak Joko yang terangsang sudah mulai grepe-grepe pantatku dan mulai menyingkap bagian bawah kimonoku. Namun kutepis tangannya.

"Ntar dong Pak, baru juga makan, masih penuh nih perutnya, nggak enak"
"Ya sudah nggak apa-apa pemanasan aja dulu neng, boleh ya" jawabnya sambil membuka bajunya sendiri.

Dia menyuruhku jongkok di depan penis hitamnya yang setengah ereksi. Akupun menggenggam penis itu dan mulai memainkan lidahku, kuawali dengan menjilati hingga basah kepala penisnya, lalu menciumi bagian batangnya hingga pelirnya. Kantong bola itu kuemut disertai mengocok batangnya dengan tanganku.

Perlahan tapi pasti benda itu ereksi penuh karena teknik oralku. Desahan Yessica tidak terdengar lagi, kulirikan mataku melihatnya, ternyata, keduanya sedang asyik berfrech-kiss. Posisi mereka tidak berubah, Yessica hanya menengokkan kepalanya ke samping saja agar bisa saling memagut bibir dengan Taryo.

Pak Joko menikmati sekali permainan lidahku, dia terus merem-melek dan mendesah tak henti-hentinya saat penisnya kukulum dan kuhisap-hisap. Lama juga aku mengkaraokenya, sampai mulutku pegal, akhirnya dia suruh aku berhenti agar tidak cepat-cepat keluar. Saat itu Taryo dan Yessica sudah ber-posisi 69 dengan pria di atas. Yessica masih mengenakan kimononya yang sudah terbuka sana-sini memainkan penis Taryo yang menggantung dengan mulutnya. Sedangkan Taryo sibuk melumat vagina Yessica, klitorisnya dijilati sehingga tubuh Yessica menegang kenikmatan. Kulihat paha mulusnya menegang dan menjepit kepala Taryo.

Setelah berdiri Pak Joko memagut bibirku yang kubalas dengan tak kalah hot, aku memainkan lidahku sambil tanganku memijat penisnya. Tangannya meraih tali pinggangku dan menariknya lepas hingga kimonoku terbuka. Sambil terus berciuman tangannya menggeser kain yang menyangga pada kedua bahuku maka melorotlah kimono itu, ditubuhku pun sudah tidak menempel apapun lagi.

Aku melepas ciuman untuk mengajaknya ke ranjang agar lebih nyaman. Di sebelah Yessica dan Taryo yang masih ber-69 kutelungkupkan tubuh telanjangku dan menaruh kepalaku di atas kedua lengan terlipat seperti posisi mau dipijat, dari sini dapat kulihat jelas ekspresi wajah Yessica yang meringis menikmati vaginanya dilumat Taryo, sementara dia memainkan penis yang menggantung di atas wajahnya. Pak Joko menaikiku lalu mencium juga mengelusi punggungku, aku mendesah merasakan rangsangan erotis itu. Ciumannya makin turun sampai ke pantatku, disapukannya lidahnya pada bongkahan yang putih sekal itu, diciumi, bahkan digigit sehingga aku menjerit kecil.

Mulutnya turun ke bawah lagi, menciumi setiap jengkal kulit pahaku. Betis kananku dia tekuk, lalu dia emuti jari-jari kakiku. Beberapa saat kemudian dia menekuk paha kananku ke samping sehingga pahaku lebih terbuka. Aku mulai merasakan jari-jarinya menyentuh vaginaku, dua jari masuk ke liangnya, satu jari menggosok klitorisku. Rambutku dia sibakkan dan aku merasakan hembusan nafasnya terasa dekat wajahku. Leher dan tengukku digelikitik pakai lidahnya, juga telingaku, aku tertawa-tawa kecil sambil mendesah dibuatnya. Aku suka rangsangan dengan sensasi geli seperti ini.

Sementara di sebelah kami semakin seru karena Taryo sudah menindih Yessica dan memacu tubuhnya dengan cepat. Yessica menggelinjang dan mengerang setiap kali Taryo menyentakkan pinggulnya naik-turun, tangannya kadang meremasi sprei dan kadang memeluk erat si Taryo. Pak Joko mengangkat pantatku ke atas, kutahan dengan lututku dan kupakai telapak tangan untuk menyangga tubuh bagian atasku. Sesaat kemudian aku merasakan benda tumpul menyeruak ke vaginaku.

Seperti biasa aku meringis dengan mata terpejam menghayati moment-moment penetrasi itu. Aku tak kuasa menahan desahanku menerima hujaman-hujaman penisnya ke dalam tubuhku. Sensasi yang tak terlukiskan terutama waktu dia memutar-mutar penisnya di vaginaku, rasanya seperti sedang dibor saja, aku tak rela kalau sensasi ini cepat-cepat berlalu, makannya aku selalu mendesah:

"Terus.. Terus.. Jangan pernah stop!"

Yessica dan Taryo berguling ke samping sehingga kini Yessica yang berada di atas dan lebih memegang kendali. Dengan liarnya dia menggoyangkan tubuhnya di atas Taryo, diraihnya tangan Taryo untuk meremas payudaranya. Wow.. Kali ini dia bahkan lebih binal dan agresif dari tadi siang, di tengah erangannya dia memaki-maki pacarnya yang menyakiti hatinya.

"Randy bangsat.. Ahh.. Lu kira aku uuhh.. nggak bisa.. Nyeleweng apa! Engghh.. Terus Bang.. Entot gua buat ngebales.. Aahh.. Cowok sialan itu!!"

Kocokan Pak Joko padaku bertambah cepat dan kasar, otomatis eranganku pun tambah tak karuan, sesekali bahkan aku menjerit kalau sodokannya keras. Karena sudah tak bisa bertahan lagi, aku mengalami orgasme dahsyat, sementara Pak Joko dia tak mempedulikan kelelahanku, justru semakin gencar menyodokku. Tanpa melepas penisnya dia baringkan tubuhku menyamping dan menaikkan kaki kiriku ke pundaknya, dengan begini penisnya menancap lebih dalam ke vaginaku. Selangakanku yang sudah basah kuyup menimbulkan bunyi kecipak setiap menerima tusukan.

Dalam posisi ini aku bisa menyaksikan Taryo dan Yessica tanpa menoleh. Payudaranya yang berayun-ayun akibat goyangan badannya mendapat kuluman Taryo, beberapa kali kulumannya lepas karena Yessica menggoyangkan tubuhnya dengan kencang, namun dengan sabar Taryo menangkapnya dengan mulut dan mengulumnya lagi.

"Yahh.. Entot aku Bang.. Sedot susuku sampai puas.. Ahh.. Perlakukan aku sesukamu.. Biar bajingan itu tahu rasa!!" erangnya terengah-engah melampiaskan dendamnya

Sambil terus menggenjot, Pak Joko menyorongkan kepalanya ke payudaraku, putingnya ditangkap dengan mulut kemudian digigit dan ditarik-tarik, aku merintih dan meringis karena nyeri, namun juga merasa nikmat. Sementara situasi di sebelah nampaknya makin seru, kalau tadi siang Yessica didominasi oleh mereka berdua, kini sebaliknya Yessicalah yang lebih mendominasi permainan dan justru Taryo dibuat ngos-ngosan oleh keliarannya. Setelah menggelinjang dan mendesah ketika mencapai klimaks, dia mencabut penis itu dari vaginanya, lalu menggeser dirinya ke bawah dan menjilati serta mengulum penis itu seperti orang kelaparan. Taryo sampai merem-melek dan mendesah-desah dibuatnya.

Dalam jangka waktu lima menitan cairan putih kentalnya sudah menyemprot bagaikan kilang minyak, bercipratan membasahi wajah Yessica, Yessica terus mengocok dengan tangannya, mulutnya dibuka membiarkan cipratan itu masuk ke mulutnya, rambutnya yang panjang itu juga terkena cipratan sperma. Setelah semprotannya reda, dia menjilati sisanya yang masih menetes, kepala penis Taryo yang seperti jamur hitam itu disedot-sedot. Sesudahnya dia mengelap cipratan di wajahnya dengan jarinya, dihisapnya jari-jarinya yang belepotan sperma itu, sisanya dibalurkan merata di wajahnya. Kemudian dia rebahan di atas tubuh Taryo, kepalanya bersandar di dadanya, keduanya berpelukan seperti sepasang kekasih.

Aku merasakan sebentar lagi giliran aku klimaks, dinding vaginaku makin berdenyut.

"Ayoo.. Pak, terus.. Citra sudah mau..!" desahku dengan nafas tersenggal-senggal.

Tak lama kemudian aku merasakan tubuhku makin terbakar, aku menggeliat sambil memeluk guling erat-erat. Desahan panjang menandakan orgasmeku bersamaan dengan mengucurnya cairan cintaku membasahi selangkanganku. Dia melepas penisnya dan menurunkan kakiku, spermanya dikeluarkan di dadaku, setelah itu dia ratakan cairan kental itu ke seluruh payudaraku hingga basah mengkilap.

Belum habis rasa lelahku, dia sudah tempelkan kepala penisnya di bibirku, menyuruh membersihkannya. Dengan sisa-sisa tenaga aku genggam benda itu dan menyapukan lidahku dengan lemas, kujilat bersih dan sisa-sisa spermanya kutelan saja. Akhirnya kami pun terbaring bersebelahan, keringatku bercucuran dengan deras, dadaku naik-turun dengan cepat karena ngos-ngosan.

"Ck.. Ck.. Ck.. What a naughty girl you are, Ci!" terdengar Yessica berkata dari sebelahku.

Aku menoleh ke arahnya yang masih berbaring di tubuh Taryo, dan membalasnya tersenyum. Kami masih sempat ngobrol-ngobrol beberapa menit sebelum satu-persatu tertidur kecapekan.

Pagi jam sembilan aku terbangun dan menemukan diriku telanjang tertutup selimut, tidak ada siapapun di kamar semua sudah pergi. Jendela sudah terbuka sehingga sinar matahari menerangi kamar ini, dari luar terdengar suara kecipak air. Aku turun dari ranjang dan melihat ke luar jendela, di kolam Yessica sedang berenang sendirian, tanpa sehelai benangpun.

"Yes.. Ooii!" sapaku sedikit teriak sambil melambai, "Mana tuh dua orang itu!?"

Dia menoleh ke asal suara dan balas melambai, "Nggak tahu tuh, kalau Pak Joko tadi lagi nyapu di depan, sini Ci, segar loh renang pagi gini!"

Aku keluar dari kamar dan menyusulnya ke kolam. Baru turun dari tangga, aku hampir bertabrakan dengan Pak Joko yang muncul di sebelah dengan memegang sapu, dia baru masuk ke sini setelah selesai membersihkan halaman depan.

Bersambung . . . .

Jumat, 23 September 2011

Liarnya wanita setengah baya - 1

Berikut ini adalah pengalaman aku dengan seorang wanita baya, sebut saja namanya Debbie umur 35 tahun dan Lucy 33 tahun. Seperti yang sudah-sudah, aku mengenal sosok Debbie dari seringnya aku online sebagai chatter.

Aku bisa menilai, Debbie adalah sosok yang hot dalam bercinta. Dengan ciri-ciri 170/65, berdada sintal, berpinggul sexy dan kelihatan sekali dia adalah seorang wanita yang suka sekali senam sehingga badannya terasa padat berisi. Itu semua aku ketahui setelah dia kirim aku foto dan aku tahu kalau dia penganut sex bebas juga dengan para karyawan-karyawan yang ada di surabaya, itupun aku ketahui setelah Debbie banyak cerita tentang kehiduapn sexnya.

Singkat cerita, kita janjian untuk ketemuan, dengan catatan dia harus bawa teman karena menurut dia, tidak pernah ada acara copy darat sendirian. Dan gilanya lagi dia sudah booking hotel, saat acara ketemuan nanti. Itu karena supaya dia tidak ketahuan suaminya, dia pilih Hotel. Karena menurut Debbie, Hotel adalah tempat yang paling aman.

Sesuai dengan hari yang sudah dibicarakan bersama, akhirnya aku bergegas meluncur menuju hotel yang dia booking. Setelah di depan hotel, aku berusaha menelpon dia untuk menanyakan di kamar nomor berapa.

"Hallo Dandy, kamu ada dimana" tanya Debbie.

"Aku sudah di depan lobby, Mbak Debbie di kamar no. Berapa?"aku berusaha mencari tahu.

"Naik aja lift ke lantai 3, terus cari nomor 326," suara Debbie dengan jelas.

"Ok Mbak, aku segera naik," jawabku.

"Ok aku tunggu," suara Debbie dengan ceria.

Setelah aku tutup celluler ku, bergegas aku menuju kamar yang disebut oleh Debbie.

"Tok-tok-tok" aku mengetuk pintu yag betuliskan nomor 326.

Setelah pintu terbuka, aku sedikit terpana dengan tubuh Debbie yang tinggi semampai.

" Dandy ngapain bengong, masuk dong," sambil menggapai lenganku.

Sesampai di dalam kamar, ternyata benar Debbie bersama dengan temannya, sesuai dengan janji dia.

"Dandy" aku ulurkan tanganku.

"Dandy, ini temenku Lucy" Debbie mengenalkan temannya dan sambari begitu, si Lucy bangkit dari duduknya langsung menyalami aku.

Keadaan berikutnya memang sedikit kaku karena aku juga kikuk, mengingat dalam kamar itu ada kami bertiga. Seandainya cuman berdua dengan Debbie aku lebih berani.

"Dandy, kamu nggak seperti di foto deh, sepertinya kamu lebih berisi" Debbie membuka omongannya.

"Jangan-jangan yang difoto bukan kamu" tuduh Debbie.

"Tidak kok Mbak, itu memang foto Dandy," aku coba membela diri.

"Dy, kata Debbie kamu jago banget ya.. Ngesexnya?" tanya Lucy.

Pertanyaan itu bagaikan menghantam dadaku. Deg! jantungku terasa berhenti sekian detik.

"Mmm anu biasa kok Mbak," jawabku gugup.

"Nggak apa-apa kok Dan, santai aja Lucy sama kok seperti Debbie" hibur Debby.

Pembicaraan semakin menjurus ke arah yang berbau sex, kedua wanita sebaya ini aku tafsir merupakan wanita-wanita yang doyan banget ngesex.

Aku sempat memutar otak dengan keadaan ini dan bertanya dalam hati, suami mereka itu gimana kok 'menelantarkan' istri-istri sexy begini. Apalagi Lucy, sepertinya membiarkan mataku melihat bongkahan paha mulus di balik rok mininya. Sesekali dia merubah posisi duduknya tanpa harus riskan dengan aku yang duduk di depannya. Disaat aku melamun tentang khayalan aku, tiba-tiba Debbie sudah berada di pangkuan aku, jantungku berdetak semakin kencang.

"Dy, buktikan omongan kamu di chatting selama ini," pinta Debbie sambil menempelkan dadanya ke muka wajahku. Aroma parfumnya yang begitu membangkitkan gairahku mengusik adik kecilku yang menghentak-hentak dinding CD-ku.

"Mbak" belum sempat aku selesaikan jawaban itu, bibir Debbie yang tipis segera melumat bibirku. Aku sedikit gugup menerima serangang yang mendadak ini. Tetapi aku berusaha mengontrol keadaan aku. Disaat bibir Debbie sedang asyik menikmati bbibirku, tanganku yang nakal mulai mengelus punggung wanita paruh baya tersebut.

Dengan kemahiran gigiku, aku melepas kancing blus belahan rendah yang ada pada dada Debbie. Sampai akhirnya 4 kancing atas blus Debbie terbuka, dan mulailah aku bisa mengusasi keadaan. Dengan belaian yang halus dan penuh perasaan, jari-jemariku mulai membuka pengait kancing BH Debbie.

Dengan sedikit sentuhan, 'tess' BH Debbie yang berwarna hitam terbuka. Dan muncullah 2 bukit yang masih kencang didepan mukaku lengkap dengan sepasang puntingnya yang memerah. Aku bisa membaca apa yang sedang terjadi pada diri Debbie, dengan jilatan maut lidahku membuatnya merintih, "Ughh, geli sayang"

Jilatan lidahku yang mendarat di puting Debbie, membuat wanita itu menggeliat tidak beraturan. Karena Debbie masih menggunakan baju kantor (baca: rok mini). Tanganku semakin berani untuk mengelus pahanya yang putih mulus. Sesekali tubuhnya yang sintal bergoyang dipangkuan aku dan sekitar 15 menit aku di posisi itu, semua inderaku bekerja sesuai fungsi masing-masing.

Disaat aku sedang melakukan foreplay, Lucy masih duduk di tempatnya semula. Akan tetapi sekarang kedua kakinya yang jenjang dibuka lebar sedangkan tangannya meremas buah dadanya sendiri

"Mm.. " sesekali Lucy merintih, mendesah melihat adegan Debbie dengan aku.

Setelah 25 menit, aku mencoba menyandarkan tubuh Debbie ke dinding kamar. Posisi ini sangat menguntungkan aku untuk mulai menikmati setiap cm tubuh Debbie. Aku lumat bibir Debbie, kemudian turun ke lehernya dan berlanjut ke buah dadanya yang sintal. Aku menjongkokkan tubuhku untuk menjilati puser Debbie.

"Akhh.. Dy, beri aku janjimu sayang.. Ughh," lidahku mulai nakal menjelajahi perut Debbie. Sampai akhirnya aku mencium aroma bunga di lubang surga Debbie. Tanpa melepas CD yang dipakai, aku segera memainkan lidahku diatas kemaluannya. Dan bersamaan dengan itu kepala Debbie menggeleng kekanan-kekiri, seperti iklan sampho clear yang lagi berketombe di diskotik. Dengan sentuhan perlahan, aku melepas Debbie, karena posisinya berdiri sangat mudah sekali melepas CD warna putih berenda yang dikenakan.

Tanganku berusaha membuka kedua kaki Debbie yang masih menggunakan sepatu hak tingginya. Sehingga memudahkan lidahku untuk mengocok lubang kewanitaanya.

"Srupp.. Srupp, crek.. Crek" lidahku mulai menghujam vagina Debbie.

"Dy, kamu memang asyik.. Geli sekali.. Ooohh" Debbie merintih panjang saat lidahku mulai, mengulum, menjilat dan menghisap clitorisnya yang sudah mulai membesar dan berwarna merah. Aku mulai merasakan sesuatu akan meletup dalam diri Debbie. Dengan segala pengetahuan aku dalam ilmu bercinta, aku angkat satu kaki Debbie keatas pangkuan pundakku sehingga lidahku bisa leluasa menikmati cairan yang mulai meleleh di lubang surgawinya.

Dengan posisi berdiri kaki satu, aku semakin mempercepat jilatan lidahku, sampai akhirnya Debbie tidak kuasa membendung orgasmenya.

"Dy, aku keluar.. Aakkhh" bersamaan dengan itu pula cairan kental muncrat ke wajahku.

Dan diisaat aku masih bingung untuk membasuh wajahku tiba-tiba dari belakang Lucy mengangkatku sambil berkata "Dy, sekarang giliranku".

Rupanya Lucy dari awal sudah memainkan jarinya diatas clitorisnya sambil menonton adegan antara aku dengan Debbie. Terbukti Lucy tidak lagi menggunakan CD yang tadi dikenakannya. Lucy membungkukkan badannya ke bibir meja, sehingga belahan merah pada selangkangannya terlihat jelas dari belakang. Bagaikan segerombolan tawon yang melihat madu, lidahkan langsung menari-nari di lubang kemaluan Lucy.

"Dy, enak.. Sekali sayang.. Akhh" Lucy merintih.

Dengan posisi aku duduk di lantai menghadap selangkangan Lucy, yang membuka lebar pahanya. Memudahkan aku beroperasi secara maksimal untuk menekan lidahku lebih dalam, sedangkan tanganku meremas pantat Lucy yang sexy.

Disaat aku sedang asyik menikmati lubang vagina Lucy, tiba-tiba Debbie sudah memereteli celanaku. Sehingga adikku yang berukuran 16 cm kurang dikit dan mempunyai bentuk yang sedikit bengkok ke kiri, menyembul keluar setelah sekian menit dipenjara oleh CD ketatku merk crocodille.

"Waow Dandy, gila banget besar sekali sayang.. Mmm" selanjutnya tidak ada suara lagi karena penisku sudah dilahap oleh mulut Debbie yang rakus. Aku merasakan betapa pandainya lidah Debbie menari di batang kemaluanku. Sesekali aku melepas kulumanku di vagina Lucy, karena merasakan kenikmatan permainan oral dari mulut Debbie.

Lucy sudah mulai bocor pertahanannya dan berkata sambil mendesah,

"Dandy.. Aku.. Aku.. Mau.. Kelu.. Arr.. Aahh," tangan Lucy yang tadinya beroperasi dibuah dadanya sekarang menekan kepalaku dalam-dalam pada selangkangannya, seolah memohon jangan dilepas isapan fantastis itu. Untuk yang kedua kalinya wajahku belepotan oleh cairan wanita sebaya yang keluar dari lubang surgawi mereka. Disaat aku sedang membasuh wajahku yang penuh cairan, tiba-tiba Debbie menarik lenganku, hingga badanku berdiri.

"Dy, aku ingin style berdiri," ajak Debbie sambil menarik tanganku untuk mengikuti dia berdiri.

Sambil bersandar di dinding, aku langsung mengarahkan adik kecilku dari bawah. Sehingga posisi berdiri tersebut sempurna sekali, dan itupun ditambah posisi Debbie yang masih belum melepas sepatu hak tingginya. Karena dengan demikian posisi Debbie lebih tinggi dari posisi aku berdiri.

"Bless" suara adik kecilku menembus belahan kecil diselangkangan Debbie

"Dy, enakk bangett.. Punyamu " erangan Debbie.

Gerakan maju mundurku semakin mentok di pangkal vagina Debbie, hal itu disebabkan karena pantat Debbie ditahan oleh dinding.

"Crekk.. Crekk.. Sslleepp" suara penisku menghujam keluar masuk dalam lubang vagina Debbie. Buatku, Debbie termasuk orang yang bisa megimbangi permainan sex. Buktinya dengan posisi sulit seperti itu, dia juga sedikit mendoyongkan tubuhnya ke dinding sehingga batang penisku benar-benar masuk semua.

Keadaan ini berlangsung sampai akhirnya di menit ke 45, Debbie berteriak

"Dyy.. Ampun.. Aku.. Mau.. Kelu.. Ar lagi.. Gila" rintih Debbie.

Tubuh Debbie mendekapku erat-erat seolah tidak mau lepas dari batang penisku yang masih menancap lubang surgawinya. Dan sedetik kemudian tubuh Debbie merosot ke bawah dengan lunglai.

Aku berjalan menghampiri Lucy yang sedang menyandarkan tangannya untuk melihat keluar jendela. Kesempatan itu tidak aku sia-siakan, sambil memeluk dia dari belakang, penisku yang masih kencang menerobos liang vagina Lucy sehingga membuat dia terpekik.

"Aaowww.. Dy kamu nakal deh, aku masih capek.. Uuughh" aku tidak mempedulikan erangannya.

Seraya meremas buah dadanya yang kencang dari belakang, pinggulku mulai bergerak maju mundur. Posisi seperti ini benar-benar membuat aku melayang, lubang Lucy yang sedikit sempit dan seret dibanding punya Debbie. Dan hal itu membuat aku lebih bernafsu untuk menyetubuhinya. Itu wajar karena Lucy belum punya anak walaupun sudah menikah beberapa tahun.

Selang beberapa menit, "Dyy.. Aku nggak tahann.. Gila banget punya kamu terasa masuk sampai ulu hatiku.. Aaugghh," rintih Lucy panjang, sambil tetap menggoyang pinggulnya. Dengan posisi setengah nungging dengan berdiri, memudahkan aku untuk memasukan penisku secara maksimal.

"Ughh.. Mbak.. Asyik banget punya Mbak" desah kenikmatanku untuk memuji kedua wanita itu sering keluar dalam mulutku.

"Dy.. Ampunn.. Aku.. Akkhh" Lucy merintih panjang.

Lucy merapatkan pahanya sehingga penisku terasa tersedot ke dalam semua. Gila, terasa copot penisku dibuatnya. Karena hebatnya permainan itu hingga tak terasa dinginnya AC yang ada dalam kamar itu. Aku coba mengambil segelas air es di kulkas, Debbie yang tadi terkulai menarik tanganku.

Bersambung . . . .

Liarnya wanita setengah baya - 2

"Dy, coba lubangku yang satu dong?" pintanya sambil merengek.

"Hah! Mbak aku belum pernah," sergahku.

"Sudahlah Dy, coba deh asyik kok," sambil berkata begitu, tangan Debbie mencoba mengambil sisa cairan di paha Lucy dan mengoleskan ke lubang analnya.

"Sini dong Dy" tangan Debbie membimbing penisku untuk memasuki lubang analnya.

Karena bantuan cairan tadi membuat batang penisku dengan mudah menghujam anal Debbie.

"Aaoww" rintih Debbie saat penisku masuk semuanya dalam lubang analnya.

"Mbak.. Gila banget.. Uughh" aku merintih kenikmatan.

Permainan sex semacam ini, pertama buat aku. Lubang anal Debbie benar-benar seperti gadis yang masih perawan. 1 jam penuh akhirnya aku harus membiarkan diriku melayang oleh 2 wanita sebaya yang dengan hebatnya menguras tenagaku.

"Mbak, Dandy nggak tahan.. Mbak," dan disaat aku mulai mencapai klimaks, tiba-tiba tangan Lucy sudah meraih batang penisku dan mengarahkan ke mulutnya.

"Crut.. Crut.. Crut.. Crut," entah berapa kali spermaku muntah dalam mulut Lucy

"Aakhh.. "jeritku.

Sungguh fantastis, disaat aku menemukan klimaks itu, mulut lucy tetap saja mengocok, mengulum dan menyedot dalam-dalam penisku. Kedua wanita tersebut benar-benar tidak ingin spermaku keluar setetespun dari dalam mulutnya, sehingga aku benar-benar dibuat terbang oleh keduanya.

Permainan pertama berakhir dengan kepuasan yang amat sangat dan dinding-dinding hotel E, manjadi saksi bisu permainan sex kami bertiga. Setelah itu kami bertiga memesan makanan yang ada pada menu hotel. Dengan penuh canda, tawa dan gurauan yang lucu, membuat kita bertiga seperti sudah lama kenal. Sesekali Debbie menggodaku

"Dy, kamu minum jamu apa sih kok kuat banget ngesexnya?" tanyanya.

"Tahu tuh, gede banget punya kamu Dy. " Lucy memuji penisku.

Kedua wanita setengah baya tersbut sepertinya bisa menerima service yang sudah aku berikan, karena aku lihat mereka berdua begitu happy.

"Mbak, mau pulang jam berapa?" tanyaku.

"Sekarangkan 23.15 menit, sebentar lagi deh. Kita belum main rame-rame?" kata Debbie.

"Deb, yuk kita main lagi buruan nih sudah malam," ajak Lucy.

Mereka berdua berdiri menghampiri aku dan menarikku ke atas ranjang, hingga posisiku terlentang diatas ranjang. Debbie langsung naik keatas wajahku untuk menyodorkan lubang surgawinya ke arah mulutku. Dengan mudah aku mulai menjelajahi seluruh bibir vagina Debbie.

"Srupp.. Mmm.. Srrupp" suara lidahku mengoyak vagina Debbie.

Sesekali Debbie bergerak naik turun, sedangkan lidahku berkali-kali mengorek-ngorek dinding vaginanya. Terlihat dari bawah buah dadanya yang kenyal naik turun, seiring gerakkan tubuhnya diatas wajahku mengikuti jilatan lidahku.

Sedangkan Lucy sudah mulai melahap penisku yang sudah muali berdiri tegak. Perasaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, karena begitu nikmatnya permainan tersebut.

"Ugh.. Dy.. Terus.. Sayang masukan lidahmu.. Oohh," rintih Debbie.

Kedua tangan Debbie meremas buah dadanya yang semakin kencang. Dibawah selangkanganku, Lucy benar-benar melahap batang kemaluanku dengan liarnya. Aku sendiri tidak bisa mendesah karena posisi Debbie yang berada diatas wajahku. Sehingga semakin nikmat hisapan mulut Lucy, semakin kencang pula aku menghisap vagina Debbie. Selang beberapa saat, Debbie bangkit dari atas tubuhku dan berkata,

"Lucy, aku sudah tidak tahan.. Gantian dong kamu yang diatas," pinta Debbie.

Tanpa banyak kata-kata, Lucy menuju arah wajahku dan menggantikan posisi Debbie tadi. Cuman bedanya, kalo posisi Debbie tadi menghadap tembok, sedangkan Lucy menghadap Debbie. Debbie langsung meraih batang kemaluanku untuk dibimbing masuk ke dalam lubang surgawinya.

"Bless.. Crekk.. Crekk," suara batang kemaluanku menembus lubang vagina Debbie.

Goyangan pinggul Debbie, menimbulkan sensasi yang luar biasa hingga aku rasakan sampai menyentuh jantungku. Sesekali gerakan Debbie, berganti naik turun.

"Oohh.. Dy.. Gila.. Lidah kamu.. Enak banget sayang.. " puji Lucy.

Kedua wanita paruh baya malam itu benar-benar ingin terbang bersama, terbukti keduanya saling cium, saling raba dan saling merangsang. Sedangkan kedua lubang vagina mereka sudah sama-sama aku kerjai. Dibawah selangkanganku, Debbie aku sumbat dengan batang kemaluanku dan diatas, Lucy dihujam berkali-kali oleh lidahku yang nakal.

"Ohh.. Ampun.. Enak baget.. Sss," rintih Lucy.

"Ss.. Dy.. Asyik banget penis kamu.. Uuhh," desah Debbie.

"Uuuhh Lucy.. " rintih Debbie, ketika mulutn tipis Lucy menjilat, mengulum dan menghisap punting Debbie.

"Dy.. Aku mau keluar" rintihan Debbie dibarengi dengan gerakan seperti kuda liar yang berkelenjotan kesana-kemari tidak beraturan.

"Dyy.. Am.. Pun.. Ahh," Debbie menjerit panjang.

Terasa sekali cairan hangat yang keluar dari lubang vaginanya. Dan aku tidak peduli dengan keadaan Debbie yang lunglai. Karena mulutku masih asyik menikmati clitoris Lucy yang sudah mulai becek dengan cairan yang membasahi daerah sekitar vaginanya. Sampai akhirnya Lucy bangkit dan berkata kepadaku,

"Sudah Dy, aku nggak tahan ingin merasakan penis kamu," pinta Lucy.

"Aku yang dibawah ya Dy?" ajak Lucy.

Dan aku segera bangkit dari posisiku yang pertama, sedangkan Lucy sudah menggantikan posisiku yang terlentang. Kedua kaki Lucy aku letakkan diatas pundakku, sehingga dengan mudah memasukkan penisku.

"Slebb.. " penisku menerobos kerumanan rambut Lucy yang lebat.

"Oohh.. Dandy.. Kamu.. Pintar sekali sayang," kata Lucy memuji.

Gerakan maju mundur pinggulku semakin maksimal dengan posisi seperti ini, dan sesekali Lucy mengimbangi untuk menggoyang pantatnya yang montok.

"Gilaa.. Kamu.. Dy.. Penis kamu panjang sekali," kata Lucy sambil merem melek menikmati tikaman penisku pada lubang kemaluannya. Debbie yang sudah mulai bangkit dari rebahannya, langsung menyerbu buah dada Lucy yang bergerak keatas dan kebawah seiring dengan gerakan penisku yang keluar masuk di vaginanya.

"Uuhh.. Sss.. " Lucy merintih dan meremas rambut Debbie yang sedang asyik menikmati puntingnya.

"Mbak Lucy, vagina kamu seret banget.. Asyik Mbak.. " kata ku singkat.

"Iya Dy.. Nikmati semua sayang.. Sss," untuk kesekian kalinya Lucy merintih hebat sembari bergetar tubuhnya. Disaat aku sedang menikmati lubang surgawi Lucy, tiba-tiba Debbie melepaskan lumatannya dan berkata,

"Lucy, coba anal dong..?" kata Debbie.

"Sss.. Aku belum pernah Deb.. Sss," jawab lucy sambil tetap menikmati batang penisku yang tiada hentinya menghunjam lubang vaginanya.

"Makanya coba gih, enak banget lho.. Dandy stop deh!" perintah Debbie.

Aku langsung melepas batang penisku dari lubang vagina Lucy. Debbie yang terlihat lebih fasih dalam urusan sex, segera membimbing Lucy untuk posisi yang ideal. Lucy mengambil posisi doggie style dan sebelum aku masukkan pada lubang anal Lucy, Debbie terlebih dulu menjilati lubang anal Lucy.

"Deb.. Geli.. Ss" rintih Lucy saat lidah Debbie mendarat di lubang analnya.

Setelah benar-benar basah dengan air jilatan lidah Debbie, batang kemaluanku segera digapai oleh Debbie dan memerintahkan aku untuk segera beraksi.

"Dandy, masukin dong," perintah Debbie.

Aku yang terbengong dari tadi melihat adegan Debbie, bergegas membimbing batang kemaluanku yang masih kencang untuk masuk ke lubang anal Lucy.

"Ssrett.. " suara kepala penisku mulai berusaha menerobos lubang anal Lucy.

Dan ketika kepala penisku mulai masuk "bless", Lucy merintih.

"Aahh Deb.. Sakit.. "rintih Lucy.

"Relax saja Lucy, sebantar lagi juga enak kok," bujuk Mbak Debbie.

Sembari membujuk seperti itu, Debbie segera mengambil posisi dibawah tubuhku dan tubuh Lucy. Mulutnya mulai mnejilati clitoris Lucy dari bawah. Pahaku terasa geli ketika bukit kembar Debbie menggesek-gesek kulit luar pahaku mengikuti irama lidahnya yang keluar masuk di lubang vagina Lucy.

"Dy.. " Lucy mendesah hebat ketika batang penisku, sepenuhnya mengoyak lubang analnya.

"Gilaa.. Debb.. Kamu.. Sss.. " rintih Lucy yang semakin jelas bisa menerima dan menikmati style tersebut.

Kedua lubang Lucy benar-benar digempur oleh aku dan Debbie. Lubang anal Lucy sempit dikocok oleh penisku yang besar dan lubang vaginanya di kocok oleh lidah Debbie yang sedikit liar dan brutal.

"Aaduhh.. Aku.. Mau keluarr.. Sss" rintih Lucy.

"Deb.. Aaahh" Lucy merintih panjang.

Sedangkan aku masih liarnya menggapai klimaks, seraya menghujamkan penisku keluar masuk anal Lucy tanpa mau tahu apa yang sudah terjadi dengannya.

"Mbak.. Aku juga sudah.. Mau keluar.. " erangku.

"Mbak.. Uugghh" aku merintih panjang.

Bersamaan dengan hal tersebut, Debbie yang dari tadi sudah menunggu anti klimaksku, langsung mencabut penisku dan dengan liarnya mengocok dengan cepat batang penisku, dan akhirnya sampailah aku dipuncak kenikmatan itu.

"Crut.. Crut.. Crut.. Crut" spermaku berhamburan keluar dan dengan buasnya kedua wanita paruh baya tersebut berebut menikmati spermaku yang entah berapa kali menyembur keluar dalammulut mereka.

"Banyak banget sperma kamu Dandy?" tanya Debbie.

Aku tidak bisa menjawab sepatah katapun karena memang aku sedang menikmati puncak permainan tersebut. Kedua wanita tersebut benar-benar istri yang haus kenikmatan tentang sex. Terbukti keduanya benar-benar membersihkan ceceran spermaku yang masi tersisah dengan lidahnya.

"Lucy, yuk buruan mandi sudah jam 00.20 nih," kata Debbie sambil menepuk pantat Lucy.

Tepat jam 01.00 dini hari, kedua wanita tersebut sudah kembali dandan dan siap untuk pulang kerumah masing-masing.

"Dandy, terima kasih ya, kamu memang hebat dan sekarang kita berdua mau balik ke rumah, ntar suami aku mencariku," Lucy berkata demikian sambil mencium bibirku, begitu juga dengan Debbie.

"Kamu istirahat saja dulu sayang disini, toh kamar ini sudah aku booking sampai pagi. Jangan khawatir aku sudah bayar kok" perintah Debbie.

"Terima kasih sayang, aku harap kita bisa ulangi permainan ini," kata mereka berdua.

"Terima kasih adik kecil," Debbie mencium penisku yang masih terkulai lemas, setelah permainan kedua yang kami lakukan tadi.

Mereka berdua meninggalkan aku yang masih duduk termangu di bibir ranjang, sambil menikmati goyangan pinggul mereka yang berjalan meninggalkan aku. Malam itu benar-benar pengalaman pertamaku untuk bercinta dengan 2 wanita sekaligus dan aku tidak percaya mampu mengimbangi permainan mereka berdua. Bisa dibilang, mereka berdua adalah 'guru' dalam masalah sex karena mereka lebih lama berumah tangga dibandingkan dengan aku.

Tetapi sekali lagi pengalaman pertama ini, semakin membuat diriku yakin bahwa sex akan bisa dinikmati jika kedua belah pihak menginginkannya. Dan yang terpenting, sex adalah sesuatu yang indah jika kita bisa menerjemahkan dalam visualnya.

Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 02.30 pagi. Aku bergegas naik keranjang dan tidur dengan pulas sambil berharap mimpi indah akan datang dalam tidurku.

Pagi hari, aku merasa fresh dengan tubuhku, aku mandi dan dandan rapi untuk kembali kekantor. Sambil meninggalkan hotel E, yang sudah memberikan pengalaman manis buat kehidupan sex aku.

*****

Pembaca Rumah Seks ini adalah pengalamanku yang pertama untuk menikmati, mengenal apa itu anal sex dan bagaimana nuansa sex yang dimainkan secara ramai-ramai.

Aku sungguh beruntung mempunyai teman sebaya seperti mereka karena dari mereka-mereka aku bisa menambah pengetahuanku tentang sex education. Sekali lagi, apa yang sudah saya ceritakan adalah benar-benar nyata bukan fiktif. Aku hanya mengganti nama dan tempat supaya bisa menjaga rahasia identitas mereka karena itu sudah janji dan komitmen antara aku dengan mereka berdua.

Bagi para pembaca yang mau mengirimkan saran, kritikan, diskusi dan bertukar pengalaman, silahkan kirim di email aku. Pasti aku balas!!

Surabaya, 10 April 2004

Tamat

Liarnya wanita setengah baya - 2

"Dy, coba lubangku yang satu dong?" pintanya sambil merengek.

"Hah! Mbak aku belum pernah," sergahku.

"Sudahlah Dy, coba deh asyik kok," sambil berkata begitu, tangan Debbie mencoba mengambil sisa cairan di paha Lucy dan mengoleskan ke lubang analnya.

"Sini dong Dy" tangan Debbie membimbing penisku untuk memasuki lubang analnya.

Karena bantuan cairan tadi membuat batang penisku dengan mudah menghujam anal Debbie.

"Aaoww" rintih Debbie saat penisku masuk semuanya dalam lubang analnya.

"Mbak.. Gila banget.. Uughh" aku merintih kenikmatan.

Permainan sex semacam ini, pertama buat aku. Lubang anal Debbie benar-benar seperti gadis yang masih perawan. 1 jam penuh akhirnya aku harus membiarkan diriku melayang oleh 2 wanita sebaya yang dengan hebatnya menguras tenagaku.

"Mbak, Dandy nggak tahan.. Mbak," dan disaat aku mulai mencapai klimaks, tiba-tiba tangan Lucy sudah meraih batang penisku dan mengarahkan ke mulutnya.

"Crut.. Crut.. Crut.. Crut," entah berapa kali spermaku muntah dalam mulut Lucy

"Aakhh.. "jeritku.

Sungguh fantastis, disaat aku menemukan klimaks itu, mulut lucy tetap saja mengocok, mengulum dan menyedot dalam-dalam penisku. Kedua wanita tersebut benar-benar tidak ingin spermaku keluar setetespun dari dalam mulutnya, sehingga aku benar-benar dibuat terbang oleh keduanya.

Permainan pertama berakhir dengan kepuasan yang amat sangat dan dinding-dinding hotel E, manjadi saksi bisu permainan sex kami bertiga. Setelah itu kami bertiga memesan makanan yang ada pada menu hotel. Dengan penuh canda, tawa dan gurauan yang lucu, membuat kita bertiga seperti sudah lama kenal. Sesekali Debbie menggodaku

"Dy, kamu minum jamu apa sih kok kuat banget ngesexnya?" tanyanya.

"Tahu tuh, gede banget punya kamu Dy. " Lucy memuji penisku.

Kedua wanita setengah baya tersbut sepertinya bisa menerima service yang sudah aku berikan, karena aku lihat mereka berdua begitu happy.

"Mbak, mau pulang jam berapa?" tanyaku.

"Sekarangkan 23.15 menit, sebentar lagi deh. Kita belum main rame-rame?" kata Debbie.

"Deb, yuk kita main lagi buruan nih sudah malam," ajak Lucy.

Mereka berdua berdiri menghampiri aku dan menarikku ke atas ranjang, hingga posisiku terlentang diatas ranjang. Debbie langsung naik keatas wajahku untuk menyodorkan lubang surgawinya ke arah mulutku. Dengan mudah aku mulai menjelajahi seluruh bibir vagina Debbie.

"Srupp.. Mmm.. Srrupp" suara lidahku mengoyak vagina Debbie.

Sesekali Debbie bergerak naik turun, sedangkan lidahku berkali-kali mengorek-ngorek dinding vaginanya. Terlihat dari bawah buah dadanya yang kenyal naik turun, seiring gerakkan tubuhnya diatas wajahku mengikuti jilatan lidahku.

Sedangkan Lucy sudah mulai melahap penisku yang sudah muali berdiri tegak. Perasaan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, karena begitu nikmatnya permainan tersebut.

"Ugh.. Dy.. Terus.. Sayang masukan lidahmu.. Oohh," rintih Debbie.

Kedua tangan Debbie meremas buah dadanya yang semakin kencang. Dibawah selangkanganku, Lucy benar-benar melahap batang kemaluanku dengan liarnya. Aku sendiri tidak bisa mendesah karena posisi Debbie yang berada diatas wajahku. Sehingga semakin nikmat hisapan mulut Lucy, semakin kencang pula aku menghisap vagina Debbie. Selang beberapa saat, Debbie bangkit dari atas tubuhku dan berkata,

"Lucy, aku sudah tidak tahan.. Gantian dong kamu yang diatas," pinta Debbie.

Tanpa banyak kata-kata, Lucy menuju arah wajahku dan menggantikan posisi Debbie tadi. Cuman bedanya, kalo posisi Debbie tadi menghadap tembok, sedangkan Lucy menghadap Debbie. Debbie langsung meraih batang kemaluanku untuk dibimbing masuk ke dalam lubang surgawinya.

"Bless.. Crekk.. Crekk," suara batang kemaluanku menembus lubang vagina Debbie.

Goyangan pinggul Debbie, menimbulkan sensasi yang luar biasa hingga aku rasakan sampai menyentuh jantungku. Sesekali gerakan Debbie, berganti naik turun.

"Oohh.. Dy.. Gila.. Lidah kamu.. Enak banget sayang.. " puji Lucy.

Kedua wanita paruh baya malam itu benar-benar ingin terbang bersama, terbukti keduanya saling cium, saling raba dan saling merangsang. Sedangkan kedua lubang vagina mereka sudah sama-sama aku kerjai. Dibawah selangkanganku, Debbie aku sumbat dengan batang kemaluanku dan diatas, Lucy dihujam berkali-kali oleh lidahku yang nakal.

"Ohh.. Ampun.. Enak baget.. Sss," rintih Lucy.

"Ss.. Dy.. Asyik banget penis kamu.. Uuhh," desah Debbie.

"Uuuhh Lucy.. " rintih Debbie, ketika mulutn tipis Lucy menjilat, mengulum dan menghisap punting Debbie.

"Dy.. Aku mau keluar" rintihan Debbie dibarengi dengan gerakan seperti kuda liar yang berkelenjotan kesana-kemari tidak beraturan.

"Dyy.. Am.. Pun.. Ahh," Debbie menjerit panjang.

Terasa sekali cairan hangat yang keluar dari lubang vaginanya. Dan aku tidak peduli dengan keadaan Debbie yang lunglai. Karena mulutku masih asyik menikmati clitoris Lucy yang sudah mulai becek dengan cairan yang membasahi daerah sekitar vaginanya. Sampai akhirnya Lucy bangkit dan berkata kepadaku,

"Sudah Dy, aku nggak tahan ingin merasakan penis kamu," pinta Lucy.

"Aku yang dibawah ya Dy?" ajak Lucy.

Dan aku segera bangkit dari posisiku yang pertama, sedangkan Lucy sudah menggantikan posisiku yang terlentang. Kedua kaki Lucy aku letakkan diatas pundakku, sehingga dengan mudah memasukkan penisku.

"Slebb.. " penisku menerobos kerumanan rambut Lucy yang lebat.

"Oohh.. Dandy.. Kamu.. Pintar sekali sayang," kata Lucy memuji.

Gerakan maju mundur pinggulku semakin maksimal dengan posisi seperti ini, dan sesekali Lucy mengimbangi untuk menggoyang pantatnya yang montok.

"Gilaa.. Kamu.. Dy.. Penis kamu panjang sekali," kata Lucy sambil merem melek menikmati tikaman penisku pada lubang kemaluannya. Debbie yang sudah mulai bangkit dari rebahannya, langsung menyerbu buah dada Lucy yang bergerak keatas dan kebawah seiring dengan gerakan penisku yang keluar masuk di vaginanya.

"Uuhh.. Sss.. " Lucy merintih dan meremas rambut Debbie yang sedang asyik menikmati puntingnya.

"Mbak Lucy, vagina kamu seret banget.. Asyik Mbak.. " kata ku singkat.

"Iya Dy.. Nikmati semua sayang.. Sss," untuk kesekian kalinya Lucy merintih hebat sembari bergetar tubuhnya. Disaat aku sedang menikmati lubang surgawi Lucy, tiba-tiba Debbie melepaskan lumatannya dan berkata,

"Lucy, coba anal dong..?" kata Debbie.

"Sss.. Aku belum pernah Deb.. Sss," jawab lucy sambil tetap menikmati batang penisku yang tiada hentinya menghunjam lubang vaginanya.

"Makanya coba gih, enak banget lho.. Dandy stop deh!" perintah Debbie.

Aku langsung melepas batang penisku dari lubang vagina Lucy. Debbie yang terlihat lebih fasih dalam urusan sex, segera membimbing Lucy untuk posisi yang ideal. Lucy mengambil posisi doggie style dan sebelum aku masukkan pada lubang anal Lucy, Debbie terlebih dulu menjilati lubang anal Lucy.

"Deb.. Geli.. Ss" rintih Lucy saat lidah Debbie mendarat di lubang analnya.

Setelah benar-benar basah dengan air jilatan lidah Debbie, batang kemaluanku segera digapai oleh Debbie dan memerintahkan aku untuk segera beraksi.

"Dandy, masukin dong," perintah Debbie.

Aku yang terbengong dari tadi melihat adegan Debbie, bergegas membimbing batang kemaluanku yang masih kencang untuk masuk ke lubang anal Lucy.

"Ssrett.. " suara kepala penisku mulai berusaha menerobos lubang anal Lucy.

Dan ketika kepala penisku mulai masuk "bless", Lucy merintih.

"Aahh Deb.. Sakit.. "rintih Lucy.

"Relax saja Lucy, sebantar lagi juga enak kok," bujuk Mbak Debbie.

Sembari membujuk seperti itu, Debbie segera mengambil posisi dibawah tubuhku dan tubuh Lucy. Mulutnya mulai mnejilati clitoris Lucy dari bawah. Pahaku terasa geli ketika bukit kembar Debbie menggesek-gesek kulit luar pahaku mengikuti irama lidahnya yang keluar masuk di lubang vagina Lucy.

"Dy.. " Lucy mendesah hebat ketika batang penisku, sepenuhnya mengoyak lubang analnya.

"Gilaa.. Debb.. Kamu.. Sss.. " rintih Lucy yang semakin jelas bisa menerima dan menikmati style tersebut.

Kedua lubang Lucy benar-benar digempur oleh aku dan Debbie. Lubang anal Lucy sempit dikocok oleh penisku yang besar dan lubang vaginanya di kocok oleh lidah Debbie yang sedikit liar dan brutal.

"Aaduhh.. Aku.. Mau keluarr.. Sss" rintih Lucy.

"Deb.. Aaahh" Lucy merintih panjang.

Sedangkan aku masih liarnya menggapai klimaks, seraya menghujamkan penisku keluar masuk anal Lucy tanpa mau tahu apa yang sudah terjadi dengannya.

"Mbak.. Aku juga sudah.. Mau keluar.. " erangku.

"Mbak.. Uugghh" aku merintih panjang.

Bersamaan dengan hal tersebut, Debbie yang dari tadi sudah menunggu anti klimaksku, langsung mencabut penisku dan dengan liarnya mengocok dengan cepat batang penisku, dan akhirnya sampailah aku dipuncak kenikmatan itu.

"Crut.. Crut.. Crut.. Crut" spermaku berhamburan keluar dan dengan buasnya kedua wanita paruh baya tersebut berebut menikmati spermaku yang entah berapa kali menyembur keluar dalammulut mereka.

"Banyak banget sperma kamu Dandy?" tanya Debbie.

Aku tidak bisa menjawab sepatah katapun karena memang aku sedang menikmati puncak permainan tersebut. Kedua wanita tersebut benar-benar istri yang haus kenikmatan tentang sex. Terbukti keduanya benar-benar membersihkan ceceran spermaku yang masi tersisah dengan lidahnya.

"Lucy, yuk buruan mandi sudah jam 00.20 nih," kata Debbie sambil menepuk pantat Lucy.

Tepat jam 01.00 dini hari, kedua wanita tersebut sudah kembali dandan dan siap untuk pulang kerumah masing-masing.

"Dandy, terima kasih ya, kamu memang hebat dan sekarang kita berdua mau balik ke rumah, ntar suami aku mencariku," Lucy berkata demikian sambil mencium bibirku, begitu juga dengan Debbie.

"Kamu istirahat saja dulu sayang disini, toh kamar ini sudah aku booking sampai pagi. Jangan khawatir aku sudah bayar kok" perintah Debbie.

"Terima kasih sayang, aku harap kita bisa ulangi permainan ini," kata mereka berdua.

"Terima kasih adik kecil," Debbie mencium penisku yang masih terkulai lemas, setelah permainan kedua yang kami lakukan tadi.

Mereka berdua meninggalkan aku yang masih duduk termangu di bibir ranjang, sambil menikmati goyangan pinggul mereka yang berjalan meninggalkan aku. Malam itu benar-benar pengalaman pertamaku untuk bercinta dengan 2 wanita sekaligus dan aku tidak percaya mampu mengimbangi permainan mereka berdua. Bisa dibilang, mereka berdua adalah 'guru' dalam masalah sex karena mereka lebih lama berumah tangga dibandingkan dengan aku.

Tetapi sekali lagi pengalaman pertama ini, semakin membuat diriku yakin bahwa sex akan bisa dinikmati jika kedua belah pihak menginginkannya. Dan yang terpenting, sex adalah sesuatu yang indah jika kita bisa menerjemahkan dalam visualnya.

Tanpa terasa, jam sudah menunjukkan pukul 02.30 pagi. Aku bergegas naik keranjang dan tidur dengan pulas sambil berharap mimpi indah akan datang dalam tidurku.

Pagi hari, aku merasa fresh dengan tubuhku, aku mandi dan dandan rapi untuk kembali kekantor. Sambil meninggalkan hotel E, yang sudah memberikan pengalaman manis buat kehidupan sex aku.

*****

Pembaca Rumah Seks ini adalah pengalamanku yang pertama untuk menikmati, mengenal apa itu anal sex dan bagaimana nuansa sex yang dimainkan secara ramai-ramai.

Aku sungguh beruntung mempunyai teman sebaya seperti mereka karena dari mereka-mereka aku bisa menambah pengetahuanku tentang sex education. Sekali lagi, apa yang sudah saya ceritakan adalah benar-benar nyata bukan fiktif. Aku hanya mengganti nama dan tempat supaya bisa menjaga rahasia identitas mereka karena itu sudah janji dan komitmen antara aku dengan mereka berdua.

Bagi para pembaca yang mau mengirimkan saran, kritikan, diskusi dan bertukar pengalaman, silahkan kirim di email aku. Pasti aku balas!!

Surabaya, 10 April 2004

Tamat

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More