Rabu, 31 Agustus 2011

Ketika nafsu menjadi raja - 2

Ketika itu Andi mulai membuka kaos Bella, terlihat Bella hanya pasrah saja. Dalam sekejap lepaslah kaos Bella dan terpampanglah tubuh mulus dia yang tidak bercacat sedikitpun. Peter yang berada di bagian bawah tidak mau kalah, terlihat dia menaikkan rok mini si Bella hingga ke atas pinggulnya. Tetapi Bella menutup pahanya dan saya hanya bisa melihat dua bongkah pantat yang mulus dan menantang.

Ketika pandangan saya beralih ke atas, terlihat Andi sudah berhasil melepas beha Bella. Karena si Bella membelakangi dan berbaring terlungkup, saya tidak bisa melihat buah dadanya. Kemudian saya berjalan menghampiri mereka. Terlihat Andi mencoba membalikkan tubuh si Bella. Ketika Bella membalikkan badannya, jantung saya hampir berhenti berdetak. Buah dadanya begitu indah. Tidak terlalu besar, sekitar 32B tetapi begitu kencang. Pentilnya terlihat begitu kecil dan berwarna coklat muda. Saya menelan ludah. Bella terlihat memejamkan matanya dan menikmati setiap sentuhan yang ia rasakan. Saat itu pikiran normal saya sudah tidak jalan. Dengan mantap saya berjalan menuju ranjang.

Peter rupanya sangat tertarik juga pada buah dada Bella, dia meninggalkan paha dan pinggul Bella dan meneruskan remasan tangannya ke buah dada Bella. Andi sendiri sudah mencium buah dada lainnya. Saya bergerak ke daerah paha dan kemaluan Bella yang masih tertutup oleh roknya. Saya meletakkan tangan saya di pahanya, terasa sangat mulus dan hangat. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu, tok.. tok.. tok.. kami seakan dibangunkan dari mimpi indah. Dengan cepat saya, Gunawan, dan Andi bersembunyi di kamar mandi. Saat itu saya kepingin tertawa, tetapi karena takut ketahuan saya memaksakan diri untuk diam. Dari dalam kamar mandi saya melihat Bella meraih handuk yang terletak di kasur dan menutupi bagian dadanya. Terlihat dia membereskan roknya juga.

Rupanya yang datang adalah roomboy untuk mengantarkan kondom pesanan Peter. Selang beberapa waktu terdengar Peter menutup pintu. Segera kami yang di kamar mandi berhamburan keluar. Saya, Peter, dan Andi berjalan ke arah Bella dan kami melanjutkan belaian dan ciuman kami. Saya berusaha membuka ritsluiting rok mininya sedangkan Andi dan Peter berjuang membuka handuk yang dililitkan di dadanya. "Udah ah.." tiba-tiba Bella bersuara. Saya sedikit kaget karena ada nada marah di suaranya. Rupanya kehadiran roomboy menyadarkan dia. Tetapi saat itu kami sudah terangsang dan melanjutkan remasan, belaian, dan ciuman kami. Bella meronta dan berkata, "Udah.. gua bilang.. udah!" kami menghentikan segala tindakan kami dan saya berjalan menghampiri Bella.
"Kenapa yang? Kenapa marah?" tanya saya.
Dia cuma cemberut.
"Kenapa sich? kalau loe nggak mau ya nggak papa.." bujuk saya.
Dia berdiam diri. Kemudian saya berbisik di telinganya,
"Kenapa sich?"
Tiba-tiba Bella menjawab,
"Kaliannya egois!" kami terdiam semuanya, kenapa ya dibilang egois?
"Gua udah hampir telanjang dan kalian masih berpakaian lengkap. Ayo buka pakaian kalian semuanya!" perintah dia.
Hahahaha.. Rupanya karena itu toh.

Mendengar permintaan Bella, dalam hitungan detik Peter dan Andi segera mencopot pakaiannya sehingga hanya mengenakan celana dalam. Saya berpandang-pandangan dengan Gunawan. Gila! pikir saya, ini sungguhan! Saya seakan-akan sedang bermimpi. Tetapi saya tidak berpikir lama karena Peter dan Andi sudah naik ke kasur. Terlihat tonjolan di celana dalam mereka. "Loe mau nggak, Gun?" tanya saya ke Gunawan. Karena takut Peter dan Andi melangkah lebih jauh segera saja saya mencopot pakaian saya hingga hanya mengenakan celana dalam. Gunawan juga melakukan hal sama. Sekarang di kamar tersebut terdapat lima insan manusia yang hanya mengenakan celana dalam (hihi..).

Kemudian saya naik ke ranjang. Si Bella sekarang berbaring telentang. Peter dan Andi sedang menikmati buah dada Bella, Peter yang sebelah kanan dan Andi yang sebelah kiri. Bella sendiri hanya menutup matanya, tetapi terlihat rona kemerahan di mukanya. Rupanya dia sudah terangsang sekali. Saya berusaha membuka ritsluiting rok Bella, cukup lama saya berjuang. Akhirnya saya berhasil juga. Kemudian saya menarik rok tersebut ke bawah. Karena celana dalamnya sudah ditinggal di dalam kamar mandi, tatapan saya langsung tertuju ke bulu kemaluannya yang jarang dan halus. Tangan saya mengelus pahanya dan naik ke arah kemaluannya. Bulunya terasa halus (saya baru tahu keesokkan harinya bahwa si Bella berumur 18 tahun!).

Tiba-tiba terasa tangan lain di paha Bella, rupanya tangan si Gunawan. Tangannya terasa sangat dingin, hihi.. masih perjaka sih. Kemudian si Gunawan menurunkan mulutnya untuk mencium paha kiri Bella, ciuman tersebut dilanjutkan ke arah kemaluannya. Gila juga saya pikir, anak ini benar perjaka tidak sih? Ciuman Gunawan sekarang berlanjut ke kemaluan Bella. Benar loh kemaluan Bella masih terlihat sempit dan berwarna kemerah-merahan. Saya merasakan nafsu saya semakin menggelegak. Sementara itu si Bella mulai merintih dan mendesis. Sepertinya dia sangat menikmati permainan kami. Bayangkan saja empat puluh buah jari, delapan tangan, dan empat lidah, wanita mana yang tahan?

Tiba-tiba Gunawan menengadahkan kepalanya dan berbisik ke saya.
"Bau, Gus.." katanya dengan mimik yang begitu polos.
Hampir saja meledak ketawa saya mendengar komentar dia. Untung saja saya masih bisa menahannya.
"Ya memang begini baunya.." jawab saya.
Padahal saya sendiri belum mencoba.
"Tetapi punya pacar gua nggak begini.." jawab si Gunawan, sekarang ketahuan kalau dianya pernah melakukan hal tersebut dengan pacarnya.
"Udah, sikat saja.. kalau nggak mau.. gua mau nich," kata saya menggertak.
Tetapi jujur saja sebenarnya saya tidak begitu bernafsu melakukan ismek (tahukan kepanjangannya?) dihadapan teman-teman saya.

Di saat kami lengah karena mengobrol, kepala Andi ternyata sudah sampai di kemaluannya Bella. Memang teman saya ini terkenal dengan jilatan sejuta kenikmatannya. Terlihat dia menjulurkan lidahnya di klitoris Bella. Dalam hitungan detik terdengar teriakan Bella yang semakin histeris. Saya kemudian berpindah tempat dan sekarang saya meraih buah dada kiri si Bella dan saya remas perlahan. Remasan jari saya berlanjut ke puting susunya yang masih basah oleh ludah Andi. Karena itu, saya memutuskan untuk tidak melakukan jilatan dan hisapan. Saya memperhatikan muka si Bella yang sudah merah padam, dia tetap memejamkan matanya. Kemudian Bella membuka matanya dan mendorong saya dan Peter.
"Sekarang saya pengen main.. ayo satu per-satu!" terdengar suara Bella di sela-sela rintihannya.
Kami bengong dan saling melirik. Akhirnya Peter menawarkan diri menjadi yang pertama tetapi dengan segera ditolak kami soalnya dia ini bisa main 2 jam tanpa orgasme. Dia bisa mengatur waktu ejakulasi. Kasihan dong kami-kaminya kalau harus menunggu selama itu, telanjur terkilir batang kemaluan kami barangkali.

Saya menganjurkan agar Peter mendapat giliran terakhir dan saya yang pertama, kemudian disusul Gunawan dan Andi.
"Nggaakk maauu!" jawab Gunawan terlihat ketakutan.
"Saya yang terakhir saja.."
Karena tidak ada komentar dari Andi dan Peter, saya langsung berjalan ke meja dan membuka bungkusan kondom yang baru dibeli. Ketika berjalan ke ranjang, saya meminta teman-teman saya untuk tidak melihat ketika saya main soalnya saya merasa nggak bakalan bisa main kalau diperhatikan. Mereka setuju (memang teman saya sangat pengertian). Mereka kemudian membalikkan sofa yang menghadap ke ranjang ke arah lainnya dan duduk di sana.
"Ayoo! Cepetan.." pinta si Bella.
Bella sendiri sudah membuka pahanya lebar-lebar. Tanpa pikir panjang lagi saya meloloskan celana dalam saya dan memakai kondom tersebut. Melihat tubuh mulus si Bella, nafsu saya sudah sampai di ubun-ubun. Apalagi saat itu dia meremas-remas buah dadanya sendiri.

Saya naik ke kasur air tersebut dan mengarahkan batang kemaluan saya di kemaluannya Bella yang belahannya terlihat begitu rapi dan tanpa kerutan. Saya mencium keningnya dan perlahan-lahan saya mulai memasukkan batang kemaluan saya. Bella menutup matanya dan mendesah. Saya sendiri merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika batang kemaluan saya menyusuri lubang kemaluan Bella. Terasa begitu sempit dan jepitan otot selangkangannya begitu enak. Kemudian saya mulai menggerakan pinggul saya, turun naik secara perlahan sambil menikmati setiap kenikmatan yang ada. Karena kasur tersebut adalah kasur air, pertama-tama cukup sulit bagi saya untuk mengontrol gerakan saya. Tetapi lama-lama saya bisa memanfaatkan goyangan kasur tersebut untuk memperkuat hujaman senjata saya.

Bella melingkarkan tangannya di leher saya. Gerakan saya semakin lama semakin cepat sambil sekali-kali saya menghujamkan kemaluan saya sedalam-dalamnya. Tangan saya bergerak meremas buah dadanya dan gerakan saya semakin cepat apalagi saat itu Bella ikut menggerakkan pinggulnya. Tiba-tiba saya mendengar nafas Bella yang semakin cepat, teriakannya semakin keras.
"Ah.. ahh.. ahh.. terus Gus! saya mau.. aahh.." teriak si Bella. Rupanya dia sudah mencapai puncak kenikmatannya. Terasa tubuhnya mengejang dan terasa cengkraman kukunya di pundak saya, sakit tetapi tidak saya pikirkan (habis lagi enak.. hihi..) Saya menghentikan gerakan pinggul saya dan mencium pipinya.

Kira-kira dua menit kemudian, saya melanjutkan hujaman batang kemaluan saya. Dimulai dari perlahan dan makin cepat. Dua menit kemudian Bella sudah kembali terangsang. Dia menggerak-gerakkan pinggulnya, saya merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tiba-tiba saya merasakan cairan sperma saya sudah mendesak keluar.
"Gua datang.. Bell.." kata saya sambil menghujam batang kemaluan saya sekuatnya, nikmatnya.
Ketika saya mencabut batang kemaluan saya, eh ternyata si Andi sudah berdiri di samping saya lengkap dengan kondomnya. Sialan, cepat sekali nih anak, pikir saya.
"Cepetan dong.. Gantiann.. cepetan..!" terdengar rintihan si Bella.
Saya seperti serdadu kalah perang memakai kembali celana dalam saya dan berjalan ke toilet untuk membuang kondom. Setelah itu saya berjalan ke arah sofa. Terasa lemas di seluruh sendi-sendi saya.
"Gimana.. Enak nggak?" tanya Peter dan Gunawan sambil berbisik.
"Asyik banget.. loe coba saja sendiri.." jawab saya.

Setelah itu saya berpakaian (karena kedinginan) dan hampir tertidur di sofa. Tidak berapa lama kemudian terdengar teriakan histeris Bella.
"Ahh.. uhh.. Saya daataangg!"
Saya membuka mata saya dan saya melihat Peter dan Gunawan sedang tertawa terkekeh-kekeh dan mengintip ke arah ranjang. Karena penasaran saya ikutan mengintip. Terlihat kepala Andi di antara kedua paha Bella dan sambil kedua tangannya meremas payudara Bella. Bella sendiri sedang menjambak rambutnya Andi. Rupanya Bella mencapai orgasme karena hisapan dan jilatan Andi. Luar biasa, memang julukannya bukan hisapan jempol belaka. Perlu saya informasikan bahwa lidah si Andi sangat panjang (mirip hantu) dan bisa menyentuh ujung dagunya. Jadi buat wanita yang suka dioral, carilah laki-laki berlidah panjang, hihihi.

Setelah itu terlihat Andi bangkit dan memcoba memasukkan batang kemaluannya yang panjang kurus tersebut ke kemaluan Bella. Melihat kejadian tersebut, batang kemaluan saya kembali tegang. Memang saya ini sanggup main berkali-kali dan permainan selanjutnya daya tahan saya akan semakin baik. Inilah keistimewaan saya! Terlihat Andi mulai menggerakkan pinggulnya dan mulai memompa. Tetapi hanya sekitar 1 menit, terlihat badan dia mengejang, hihihi ternyata dia sudah orgasme. Melihat hal tersebut, secepat kilat Peter menyambar kondom yang terletak di meja dan mencopot celana dalamnya.
"Ayo.. cepetan..!" seru si Peter kepada Andi.
Dia tidak memberikan waktu bernafas buat Andi.
"Ayo.. yang lain.. cepetann!" si Bella ikut berseru.
"Gila nih cewek, hiper.." demikian pikir saya.
Karena capai, saya akhirnya tertidur dengan senjata yang masih tegang, hihihi.

Antara sadar dan tidak sadar saya mendengar beberapa kali teriakan Bella. Saya akhirnya terbangun ketika Peter ikutan berteriak, rupanya mereka orgasme pada saat bersamaan. Saya memperhatikan jam tangan saya, pukul 06.30, karena tidak percaya, saya mengucek-ngucek mata saya.. gila si Peter bermain selama satu jam. Sekali lagi ternyata julukan teman-teman saya benar adanya. Dan saya tahu dari Andi kalau si Bella orgasme empat kali ketika bermain bersama Peter. Menakjubkan!

Dengan langkah tertatih-tatih Peter berjalan ke arah sofa. Saya melirik ke arah ranjang, terlihat Bella berbaring telentang dengan paha terbuka lebar. Matanya hampir tertutup, dia terlihat lemas.
"Yang lainnya.. mana?" tanya Bella dengan suara lemas.
Gila benar. Saya memandang ke Gunawan.
"Giliran loe sekarang.." Dia terlihat ragu-ragu.
"Ehh.." terlihat dia sedang berjuang antara mempertahankan keperjakaannya atau tidak.
Mungkin juga dia merasa malu.
"Ayo.." desak saya.
"Ah..! Nggak mau.." akhirnya Gunawan memutuskan.

Saya menghargai pendirian dia, lagi pula saat itu saya sudah terangsang kembali melihat tubuh mulusnya Bella. Saya membuka pakaian saya, memakai kondom dan berjalan ke ranjang. Bella membuka matanya sedikit.
"Ayo dong.. mau lagi.." pinta dia dengan suara lemas.
Saya membalikkan tubuhnya sehingga sekarang Bella berbaring menghadap ke samping. Belahan kemaluannya terlihat basah dan sangat merah. Badan Bella sendiri sudah basah oleh keringatnya. Saya menyambar handuk dan melap badannya, Bella tersenyum. "Ayo.. cepetan..!" tetapi suaranya terdengar lemas. Dari belakang (dengan posisi berbaring miring) saya mengarahkan batang kemaluan saya dan memasukkannya secara perlahan. Dalam posisi seperti ini terasa lubang kemaluannya menjadi semakin sempit. Ketika batang kemaluan saya baru masuk setengahnya saya menggunakan tangan saya untuk memutarnya, "Aah.." Bella merintih perlahan. Kemudian saya melanjutkan dorongan kemaluan saya.
"Bless..!"
Akhirnya masuk juga seluruh batang kemaluan saya di lubang kemaluannya. Bella menjerit tertahan. "Aughh.." Tetapi saya tidak langsung memulai goyangan pinggul saya, melainkan saya menggerakkan tangan saya melingkari pundaknya dan meremas buah dadanya. Sangat kencang dan pentilnya terasa keras.

Karena remasan saya, Bella mulai menggerakkan pinggulnya dengan tenaga terakhirnya. Terasa begitu nikmat dan akhirnya saya juga mulai mengeluarkan dan memasukkan batang kemaluan saya masuk dan keluar dengan cepat dan bertenaga. Cukup lama saya melakukan hal tersebut sampai terasa pinggul Bella bergerak semakin cepat. Semakin cepat, saya sendiri memperdalam dan memperkuat hujaman senjata saya. "Ahh.. lebihh cepat.. ahh.." tubuhnya mengejang dan menggelepar, dia sudah orgasme. Saya sendiri masih belum apa-apa. Memang untuk kedua kali saya tahan lebih, apalagi ketiga dan keempat kali dan ini terbalik dengan perempuan yang semakin lama waktu orgasmenya semakin cepat, betul kan?

Saya kemudian membalikkan badannya dan sekarang Bella berbaring telentang. Saya membuka pahanya. Perlahan saya menggosok-gosokkan kepala batang kemaluan saya di bibir kemaluan Bella. Cukup lama saya melakukan hal tersebut sambil memberi kesempatan kepada Bella untuk menikmati orgasmenya. Setelah itu saya kembali memasukkan batang kemaluan saya dan langsung memompa. Bella sendiri sudah lemas dan tidak bertenaga, tetapi masih terdengar desahan dan rintihannya. Mungkin karena kemaluannya yang sudah basah kuyub, terdengar suara lain yang begitu menggairahkan, "Plok.. plok.. plok.." Hanya dalam selang 10 menit, dia kembali menggerakkan pinggul yang menandakan dia menikmati dan akan mencapai puncak kenikmatan.
"Ah.. Ahh.. saya datangg lagii.." Bella berseru.
Heran juga saya kok dia masih mempunyai tenaga ya? Tubuhnya mengejang untuk kedelapan kalinya malam itu. Tetapi raut mukanya begitu bahagia dan cakep. Oh ya, coba para pembaca perhatikan, wanita itu paling cakep kalau habis orgasme dan paling jelek kalau tidak terpuaskan, hihihi.. bener kan?

Setelah itu saya tidak mengeluarkan batang kemaluan saya dan membiarkannya di dalam kemaluan Bella. Karena sudah bernafsu saya melanjutkan goyangan pinggul saya. Tetapi kali ini saya yang harus menyerah. Dengan kekuatan penuh saya memasukkan batang kemaluan saya dan tubuh saya mengejang. Nikmatnya tiada tara. Saya langsung berbaring di atas tubuh mulus Bella. Bella sendiri sudah tidak mempunyai kekuatan, dia hanya terdiam dan memejamkan matanya. Dia tidak meminta tambah lagi. Hihi.. sudah cukup barangkali. Akhirnya saya tertidur di dalam pelukan dia.

Sinar matahari yang silau membangunkan saya keesokan harinya. Bella masih tertidur dengan tubuh polos. Darah saya mendesir dan senjata saya bangun kembali. Tetapi karena capai saya tidak begitu bernafsu lagi. Saya melihat Peter juga sudah bangun. Saya melirik jam tangan saya, wah hampir jam 9.00 (kami harus check out jam 9.00 pas), buru-buru saya membangunkan Bella, Andi dan Gunawan.

Setelah itu kami mengantarkan Bella pulang ke rumahnya yang terletak di Pondok Indah (sekitar 500 m dari Bank Bali). Di perjalanan dia bercerita bahwa papanya ternyata orang Korea dan sering memukul mamanya. Mamanya sendiri jarang berada di rumah. Sewaktu kecil dia pernah memergoki papanya sedang berpesta seks dengan tiga orang wanita, sungguh menyedihkan.

Sewaktu saya berada di Inggis, saya beberapa kali mencoba menelepon Bella dan pernah beberapa kali mengobrol dengan dia. Dia mengaku bahwa dia membutuhkan sedikitnya 5 kali orgasme setiap kali berhubungan badan. Itulah sebabnya tidak suka bermain hanya dengan satu cowok. Sekitar 3 bulan kemudian pembantu dia memberitahukan saya bahwa Bella sudah berangkat ke Korea untuk menemani kakaknya yang sudah lebih dari 5 tahun berada di sana.

Saya sendiri tidak mempunyai keinginan untuk mengulangi pengalaman di atas, bagaimanapun juga saya tidak bisa menikmatinya secara utuh. Tetapi saat nafsu menjadi raja, apapun bisa terjadi bukan? Pembaca sekalian yang budiman, jangan lupa memberikan komentar, tanggapan, pertanyaan, kenalan, atau apa saja.

TAMAT

Berbagi sesama teman

Hmm, kisah ini terjadi di tahun 1999. Usia saya boleh dibilang masih cukup muda untuk mengenal yang namanya sex. Tetapi apa mau dikata, karena sex itu enak maka saya menjadi ketagihan. Anyway, kembali ke cerita saya.

Saya mempunyai seorang temen cewek, sebut saja namanya Vina. Dari postur tubuhnya boleh dijamin semua laki-laki yang melihatnya pasti akan tergiur untuk mencicipinya. Vina mempunyai tinggi kurang lebih 165 cm, 47 kg dan menggunakan bra ukuran 34B (hal itu saya ketahui ketika saya ML sama dia), dan kulitnya kuning langsat. Dengan wajah layaknya cewek kampus, dan tidak terlihat sama sekali kalau dia juga seorang pecinta sex bebas, sama seperti saya.

Beruntung saya memiliki wajah dan badan yang cukup lumayan, sehingga saya tidak mengalami kesulitan dalam mencari teman untuk melepas birahi, apalagi ditambah dengan ukuran saya yang boleh dibilang lebih dari rata-rata. Wajar saja kalau teman cewek saya rajin mengontak saya disaat mereka butuh dan begitupun juga sebaliknya.

Suatu hari, Vina menelpon saya. Dia cerita bahwa dia punya teman kost baru, dan cakep pula. Dia juga bilang kalau temannya itu mirip artis ternama di ibukota, yang namanya sudah terkenal. Dia janji mau mengenalkan saya ke dia. Maka kemudian saya dan Vina membuat suatu janji pertemuan di hari Sabtu.

Pada hari yang telah di janjikan, saya telah membuka sebuah kamar di daerah Juanda, dan seperti yang telah direncanakan, Vina datang membawa seorang temannya yang bernama Santi.

"Tok.. tok.. tok..!" 3 kali saya dengar ketokan pintu, maka secara otomatis saya membukakan pintu.
Begitu pintu terbuka, terlihatlah Vina yang sedang tersenyum kepada saya, dan di belakangnya tampak temannya yang akan dikenalkan ke saya. Dan benar saja, temannya itu menang benar mirip sekali dengan artis ibukota yang Vina ceritakan.

"San, kenalin donk.. ini loh temen gue yang gue mau kenalin ke elu." begitu ucap Vina sambil masuk ke kamar.
"Oh iya, gue Santi.. dan elu sapa..?" sapanya ramah.
Saya sempat terdiam sewaktu Santi menjulurkan tangannya, karena saya tidak habis pikir kalau cewek ini begitu cantiknya, dan saya harus dapat mencicipinya hari ini juga.

"Hmm, nama gue A.." begitu saya sadar, langsung saya merespon dengan julurkan tangan.Hmm, kulitnya halus juga, pikir saya. Kalau dari yang saya lihat, Santi ini sedikit lebih pendek dari Vina, tetapi dia mempunyai buah dada yang lebih besar daripada Vina. Kira-kira tingginya 160 cm, 45 kg, dan saya rasa ukuran dadanya 34C, soalnya dadanya besar sekali.

"Eh, loe berdua jangan diem gitu donk, kasih gue minum kek..!" tiba-tiba suara Vina memecahkan kesunyian yang ada.
"Oh iya, sori Vinn, tuh loe ambil aja deh di kulkas..!" jawab saya sekenanya.
"Gini..," kata Vina. "Temen gue Santi ini seorang janda anak satu, tapi loe pikir deh, umurnya baru 23 dan body-nya masih segini, ngga kecewa donk loe gue bawain yang kaya gini." lanjut Vina lagi.
"Ah elu bisaan aja Vin," sahut Santi dengan tersipu, sehingga tampaklah wajahnya yang sedikit memerah.
Aduh.., ini membuat saya jadi horny saja.

Tiba-tiba saja Santi menarik Vina ke kamar mandi.
"Ikut gue bentar deh Vin..!" kata Santi.
Lalu Vina dengan terburu buru juga ikut dan sambil bicara kepada saya, "Dah loe tiduran aja dulu di ranjang, temen gue mau bilang sesuatu kali nih ke gue."

Tidak lama mereka keluar dari kamar mandi.
"Eh sori yach tadi sempet bikin loe kaget." kata Santi.
"Eh, ngga apa-apa kok." jawab saya masih bingung.
"Emangnya kenapa sih tadi..?" saya masih bingung.
"Udah deh loe ngga usah tau, urusan perempuan kok barusan, yang penting sekarang loe santai aja di ranjang loe dan ikutin permainan gue." timpalnya lagi.

"Wah-wah-wah, permainan apa lagi nih..?" pikir saya dalam hati.
Tapi saya sudah senang sekali, apalagi saya melihat Vina tersenyum nakal ke arah saya. Duh, saya jadi tambah horny saja deh.
"Sebelum gue kasih loe ijin, jangan sekali kali loe sentuh gue, ok..?" kata Santi.
"Ok-ok deh..," jawab saya meskipun saya masih agak bingung dengan arah permainannya.

Tiba-tiba saja Santi langsung mendekati ke ranjang dan segera menciumi saya di bibir. Yach sudah otomatis saya akan merespon juga donk. Lidah kami saling 'bergerilya', sedangkan saya hanya boleh telentang saja di ranjang. Kemudian ciuman Santi turun ke leher saya, hm.. enaknya pikirku. Dijilatinnya leher saya, terus dia juga menjilati kuping saya.
Tanpa sadar saya mendesah, "Ahh, enak, San, terusin dong..!"

"Sekarang gue bukain baju loe, tapi inget..! Tangan loe tetep diam aja yach, jangan sentuh gue sebelum gue kasih ijin..!" sahutnya lagi.
"Aduh sengsara banget nih..! Masa mau ML tapi tangan gue ngga boleh megang-megang sih..!" pikir saya dalam hati.

Dengan cepet Santi membuka baju saya dan langsung dilempar. Dengan sigapnya Santi langsung bergerilya di dada saya, bagaikan seseorang yang lama tidak mendapatkan tubuh laki-laki. Digigitnya kedua puting saya.
"Ahh, enak gigitan loe," saya mendesah pelan.
Samar-samar saya melihat Vina duduk di samping saya sambil memperhatikan wajah saya dan dia tersenyum.

Tanpa sadar tangan saya mencoba mencari buah dada Santi untuk saya remas-remas. Eh tanpa saya duga, tiba-tiba saja tangan saya ditepis oleh Santi dan Vina.
"Gue kan udah bilang, kalo belum gue kasih ijin jangan sentuh gue..!" kata Santi.
"Iya, loe tuh gimana sih..?" kata Vina, "Ikutin donk permainannya Santi..!" lanjut Vina.
"Yach habis gimana donk..? Namanya juga reflek..!" timpal saya sambil mendesah dan agak kecewa.

"Pokoknya loe sabar deh..!" kata Santi sambil membuka celana saya.
"Hmm.., CD model low cut dengan warna hitam nih..!" ujar Santi sambil bergumam sendiri.
"Loe tau aja kesukaan gue..!" kata Santi, "Dan loe seksi banget dengan CD warna gini, bikin gue horny juga tau..!" kalimat Santi yang terakhir sebelum dia mulai ber-'karaoke'.
"Oohh, enak, sedot lagi donk yang kuat San..!" kata saya sambil mendesah.

Kurang lebih 5 menit Santi telah ber-'karaoke' terhadap penis saya. Kemudian Santi dengan sigapnya melepas seluruh baju, celana dan pakaian dalamnya.
"Nah, sekarang loe baru boleh sentuh gue..!" kata Santi.
Maka karena dari tadi saya sudah menahan mau nyentuh dia tapi tidak boleh, maka kesempatan ini tidak saya sia-sia kan. Langsung saja saya rebahkan Santi di ranjang dan gantian saya ciumi bibirnya, dan Santi juga membalasya dengan tidak kalah ganasnya. Kemudian saya turuni ciuman saya ke daerah lehernya. Hmm, lehernya yang bersih itu saya ciumi dan saya jilati. Samar-samar saya mendengar Santi mulai mendesah.

Kali ini saya turun ke buah dadanya, saya menjilati dulu pinggirnya secara bergantian, dari kanan ke kiri. Tetapi saya tidak menyentuh sedikit pun putingnya Santi.
Dan Santi kemudian bicara, "Ayo donk isepin puting gue, please..!"
"Wah ini saatnya balas dendam nih..!" pikir saya dalam hati.
"Hah..? Loe minta diisepin puting loe, sabar yach sebelum gue mood, gue ngga bakal isep puting loe..!" jawab saya sambil tersenyum.
Saya lihat Vina juga ikut tersenyum melihat temannya terkapar pasrah.

Tidak lama setelah saya memainkan buah dadanya, saya turun ke vaginanya. Tampaklah bulu-bulu vagina Santi yang begitu halus dan dicukur rapih. Dengan sigap saya langsung menghisap vagina santi.
"Ohh.., ohh.., enakk..! Terusin donk Sayang..!" sahut Santi sambil mendesah.
Kalimat itu membuat saya tambah semangat, maka saya tambah liar untuk menghisap vaginanya.

"Sayang, aku mau keluar," lirih santi.
Dan tiba-tiba saja cairan vagina Santi keluar diiringin teriakan dari Santi yang kemudian saya telan semua cairan vagina Santi.
"Duh Say, kamu kok hebat sih maenin memekku..?" tanya Santi.
Yang saya lakukan hanya tersenyum saja.
"Please donk, masukin punya kamu sekarang..!" pinta Santi dengan memelas.
"Nanti dulu, puting kamu belum gue hisap..!" jawab saya.
Maka dengan cepat langsung puting yang berwarna coklat muda itu saya hisap dengan kencanganya secara bergantian, kiri dan kanan.

"Ahh, enakk Sayang, terusin..! Tambah kenceng donk..!" teriak Santi.
Hmm, mendengar suara cewek lagi terangsang begitu membuat saya tambah horny lagi, apalagi si 'adik' sudah dari tadi menunggu giliran 'masuk'. Maka langsung saja saya memasukkan penis saya ke vaginanya.
"Shit..! Sempit banget nih memek..!" pikir saya dalam hati.
Setelah sedikit bersusah payah, akhirnya masuk juga barang saya ke vaginanya.
"Gila bener San, barang loe enak dan sempit banget sih..?" jawab saya dengan napas yang mulai tidak teratur.
Dan kalimat saya dibalas dengan senyum oleh Santi yang sedang merem melek.

Begitu masuk, langsung saya goyangkan. Yang ada hanya suara Santi yang terus mendesah dan teriak.
"Ahh terus Sayang, tambah cepet donk..!"
Dan sekilas di samping saya tampak Vina sedang meremas-remas buah dadanya sendiri.

"Sabar Vin, akan tiba giliran loe, sekarang gue beresin dulu temen loe ini..!" jawab saya sambil sambil menggoyangkan Santi.
Vina hanya dapat menganggukan kepala, soalnya dia tahu ini bagian dalam permainan yang mereka buat, jadi Vina juga tidak boleh ikut sedikit pun dalam permainan saya dan Santi.

Tidak lama kemudian Santi minta gantian posisi, kali ini dia mau di atas.
"Gue cepet keluar kalo di atas..!" katanya santai.
Kami pun berganti posisi. Berhubung Santi tadi sudah keluar, maka kali ini ketika kami 'main' vagina Santi sudah becek.
"Ahh.., enakk.., barang lo berasa banget sih..!" jawab Santi sambil merem melek.

5 menit kemudian Santi teriak, "Ahh.., gue keluar lagi..!" dan dia langsung jatuh ke pelukan saya.
Tetapi saya kan belum keluar, wah tidak begini caranya nih. Ya sudah akhirnya saya gantian dengan gaya dogy.
Kali ini kembali Santi menjerit, "Terusiin Sayang..!"
Tidak lama kemudian saya merasa kalau saya sudah mau keluar.
"San, mau keluarin dimana..?" tanya saya.
"Di muka gue aja." jawabnya cepat.

Kemudian, "Croott.., crott..!" sperma saya saya keluarkan di wajah Santi.
Kemudian Santi dengan cepat membersihkan penis saya, bahkan saya saja sampai ngilu dengan hisapannya. Tidak lama saya pun jatuh lemas di sampingnya. Dan saya tetep melihat Vina tetap meremas dadanya dan dia pun melihat saya dengan tatapan ingin mendapat perlakuaan yang sama seperti temannya.

"Vin, ke kamar mandi dulu yuk, gue mau bersih-bersih nih..!" jawab saya sambil mengajak Vina.
Kemudian Vina dengan cepat menarik saya ke kamar mandi. Di kamar mandi kami saling membersihkan satu sama lain.
"Vin, gue istirahat dulu yach, gue cape banget soalnya," timpal saya dengan suara lemas tapi penuh dengan kebahagiaan.
"Ok deh, tapi jangan lama-lama yach, gue udah ngga tahan nih..!" jawab Vina sambil membersihkan penis saya.

Tidak lama kemudian Santi masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, saya dan Vina kemudian keluar dari kamar mandi. Begitu sampai di ranjang, tiba-tiba saja Vina mencium saya dengan ganasnya. Secara otomatis pula saya membalasnya. Kemudian ciuman Vina mulai turun ke leher saya dan dada saya. Saya hanya pasrah diperlakukan seperti itu. Dada saya diremas-remas oleh Vina dan sapuan lidahnya mulai turun ke daerah bawah.

"Hmm.., barang loe bakal gue paksa berdiri lagi nih..!" kata Vina dengan suara menggoda.
Kemudian tanpa diperintah Vina segera mencium dan mengulum penis saya dengan lahapnya seperti orang yang kelaparan.
"Ahh.. ahh.. ahh.., enak Vin..!" timpal saya.
Sekilas saya melihat Santi baru keluar dari kamar mandi dan sedang memakai bajunya.
"Loe ngga mau ikutan lagi San..?" tanya saya.
"Ngga ah, gue lemes banget, gantian loe urus temen gue aja deh, gue mau istirahat dulu," jawabnya santai.

Kemudian saya tidak mau kalah, segera saya raih buah dada Vina dan segera saya hisap. Saya mulai dari putingnya yang kanan, kemudian beralih ke yang kiri, saya remas-remas juga dadanya.
"Ahh, yang kenceng Sayang..!" jawab Vina lirih.
Kurang lebih 5 menit saya memainkan dadanya, kemudian saya turun ke vaginanya. Tampaklah vagina Vina ditumbuhi bulu-bulu halus yang rapih itu sudah tampak basah.

"Hmm.., udah basah loe Vin, dah ngga tahan yach..?" kata saya sambil tersenyum.
Vina hanya menangguk saja tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Kemudian saya mendekatkan mulut saya ke depan vagina Vina, dan langsung saya hisap dan saya jilat vaginanya.
"Ohh.., ohh.., teruss..! Enak..!" itulah suara yang terdengar dari mulut Vina.

Setelah 10 menit saya memainkan vaginanya, saya ingin melakukan gerakan lebih jauh. Dan dengan segera saya memasukkan penis saya ke dalam vagina Vina.
"Hmm, pelan-pelan yach..!" jawab Vina.
Saya hanya tersenyum dan segera mencium Vina, dan dia pun membalasnya dengan penuh semangat.

Bless, seluruh penis saya kini berada di dalam vagina Vina. Dan tanpa dikomando lagi saya segera bergerak diikuti goyangan pinggul Vina. Tanpa sadar Vina memeluk saya begitu eratnya dan saya memperhatikan wajah Vina yang sedang merem melek seakan-akan tidak ingin berhenti memperoleh kenikmatan.

5 menit kemudian Vina ingin berganti posisi.
"Eh, gantian dogy yuk..!" pinta Vina.
Ya sudah, saya turuti saja kemauan Vina.
"Bless, bless.., bless..!" sedikit terdengar suara penis dan vagina yang sedang berlomba, karena vagina Vina sudah basah dan menurut saya Vina tidak lama lagi akan keluar.

Dan benar saja dugaan saya, tiba-tiba saja Vina teriak, "Ah.., ahh.., ahh.., gue keluar..!"
Kemudian Vina langsung jatuh lemas dengan posisi telungkup, sementara penis saya masih tertancap dalam vagina Vina. Maka saya segera menggerakkan penis saya supaya saya juga dapat keluar. Tidak lama saya terasa bahwa saya ingin keluar.
"Keluarin di mana Vin..?" tanya saya.
"Di dalam ajalah, biar loe enak..!" jawabnya dengan suara yang terbata-bata.

Lalu, "Crott, crott..!" penis saya segera mengeluarkan semburan spermanya.
"Ahh..!" saya bersuara dengan keras, "Enak banget..!" lanjut saya.
Kemudian saya langsung rebah di sebelah kanan Vina, sementara Santi sedang tersenyum memperhatikan kami berdua.
"Wah-wah-wah, cape loe yach berdua..?" kata Santi.
Saya yang sudah lemas hanya dapat tersenyum dan tiduran di samping Vina.

Setelah istirahat beberapa menit, kemudian saya dan Vina ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah itu kami bertiga pulang ke rumah masing-masing dengan membawa kenangan indah bersama. Nah, nantikan cerita saya di periode berikutnya, mohon para pembaca memberi saran dan komentar terhadap cerita saya.

TAMAT

Berbagi rasa - 1

Sebelumnya saya minta maaf atas semakin banyaknya email yang belum sempat saya balas dikarenakan saya sangat sibuk dengan pekerjaan saya. Walau demikian, akan saya usahakan untuk bisa membalas semua email tersebut.

Berikut saya akan menceritakan satu pengalaman nyata, dan masih berlangsung sampai sekarang, kisah dari salah satu teman korespondensi saya, Mia, kita sebut saja begitu. Kisah yang menurut Mia sangat bisa membuat gairah hidupnya menjadi lebih berwarna cerah dan penuh sensasi.. Sesuai dengan permintaan yang bersangkutan, saya samarkan nama-nama ada dalam cerita saya ini.

*****

Mia, 27 tahun, isteri dari Dicky, 31 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga yang lumayan supel dalam bergaul di lingkungan tempat tinggalnya. Penampilan Mia biasa saja. Mia bersikap selalu apa adanya dan bersahaja. Dicky adalah seorang suami yang cukup baik dan bertanggung jawab kepada keluarga. Apapun kekurangan dalam rumah tangganya, maka Dicky akan selalu berusaha untuk memperolehnya. Bisa dibilang, rumah tangga mereka adalah harmonis.

Pada waktu malam acara 17 Agustusan tahun 2003, Mia dan Dicky beserta warga lingkungan dimana mereka tinggal mengadakan malam hiburan berupa Organ tunggal. Tua muda, laki-laki perempuan, semua ikut bergembira. Semua turun berjoget mengikuti alunan lagu yang dibawakan oleh penyanyi. Mula-mula mereka berjoget dengan pasangan masing-masing. Semua bergembira sambil tertawa bebas mengikuti irama musik..

Setelah beberapa lagu, mereka terus berjoget dengan berganti pasangan. Mereka terus bergembira. Mia berjoget dengan seorang bapak, Dicky berjoget dengan seorang anak perempuan remaja.. Begitulah mereka berjoget sampai beberapa lagu dengan berganti pasangan sampai beberapa waktu. Menjelang akhir acara, pada lagu terakhir, Mia berjoget dengan seorang bapak, sedangkan Dicky berjoget dengan Evi, seorang ibu rumah tangga yang tinggal beberapa rumah dari rumah mereka. Evi, sekitar 40 tahun, ibu dari seorang karyawan swasta yang bekerja dengan sistim shift, mempunyai 2 orang anak yang sudah cukup besar.

Walau sudah berumur tapi penampilan Evi selalu tampak muda karena cara berpakaiannya yang selalu agak seksi dan pandai bermake up. Selintas Mia melirik pada Dicky yang sedang berjoget dengan Evi. Terlihat Dicky sedang tertawa dengan Evi sambil berjoget. Setelah itu kembali Miapun berjoget dan tertawa dengan pasangannya. Menjelang tengah malam acara usai. Semua kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan gembira walaupun capek.. Sesampai di rumah, setelah mandi air hangat, Mia dan Dicky segera ke tempat tidur.

"Bagaimana tadi, sayang?" tanya Dicky sambil memeluk Mia.
"Apanya?" kata Mia sambil menempatkan kepalanya di salah satu tangan Dicky.
"Ya tadi waktu kita di tempat pesta tadi," kata Dicky sambil mengecup bibir mungil Mia.
"Saya benar-benar gembira..." kata Mia sambil tersenyum sambil tangannya mengusap-ngusap dada serta jarinya memainkan puting susu Dicky.
"Harusnya kita sering melakukan acara seperti tadi, jangan cuma setahun sekali..." kata Dicky sambil tangannya masuk ke pakaian tidur Mia. Buah dada Mia diremas dengan mesra.
"Mmhh.. Memangnya kenapa?" kata Mia sambil mencium pipi Dicky lalu mengecup bibirnya.
"Ya kita kan bisa bergembira dengan tetangga yang ada. Jarang sekali kita ngumpul bareng mereka," ujar Dicky sambil membuka seluruh kancing pakaian tidur Mia.

Lalu dijilatnya puting susu Mia sambil tangannya meremas buah dada Mia yang satu lagi.

"Mmhh..." desah Mia sambil memejamkan matanya.

Sambil tetap menciumi dan menjilati buah dada Mia, tangan Dicky yang tadinya meremas buah dada, turun ke perut lalu disusupkan ke celana dalam Mia. Segera jarinya menyentuh bulu-bulu kemaluan Mia yang tidak terlalu banyak. Mia tetap terpejam sambil sesekali mendesah.. Jari-jari tangan Dicky lalu turun menyusuri belahan belahan memek Mia.

"Ohh..." desah mia keras sambil menggerakkan pinggulnya.

Jari Dicky terus menggosok-gosok belahan memek Mia sampai cairan memek Mia keluar banyak.

"Mmhh..." desah Mia sambil tangannya memegang tangan Dicky yang sedang bermaik di memeknya.
"Enak, sayang," kata Dicky sambil melumat bibir Mia.

Sementara jari tengah Dicky masuk ke lubang memek Mia. Tanpa menjawab pertanyaan Dicky, Mia membalas ciuman Dicky dengan hebat sambil menjepitkan pahanya lalu menggoyangkan pinggulnya karena menahan kenikmatan ketika jari tangan Dicky keluar masuk lubang memeknya. Sementara tangan Mia segera menyelusup ke dalam celana piyama Dicky, dan kemudian menggenggam dan meremas kontol Dicky yang sudah tegang.

"Buka pakaiannya dong, sayang," kata Mia berbisik ke telinga Dicky. Dicky segera bangkit lalu melepas seluruh pakaiannya. Kontol Dicky terlihat sudah tegak dengan ditumbuhi bulu yang sangat lebat. Melihat itu, Mia segera bangkit dan duduk di tepi ranjang. Digenggamnya kontol Dicky lalu dikocok perlahan. Cairan bening terlihat keluar dari lubang kontol Dicky. Tanpa banyak cakap ujung lidah Mia segera menjilati cairan tersebut sambai habis. Tak lama, mulut Mia sudah mengulum batang kontol Dicky yang lumayan besar. Cpok.. Cpok.. Cpok.. Terdengar suara kuluman mulut Mia pada kontol Dicky.

"Ohh.. Enak, sayang.. Ohh..." desah Dicky sambil memegang kepala Mia lalu memompa pelan kontolnya di mulut Mia.
"Gantian, dong..." kata Mia sambil melepas kulumannya lalu menatap mata Dicky. Dicky tersenyum.
"Naiklah ke ranjang..." ujar Dicky.

Miapun segera naik ke atas ranjang lalu telentang dan membuka lebar pahanya. Tak lama, Mia mendesah karena lidah Dicky pintar bermain dan menjilati kelentit dan lubang memek Mia.

"Ohh, sayangg.. Teruss..." desah Mia agak keras.

Apalagi ketika jari Dicky masuk ke lubang memeknya sambil lidahnya tak henti menjileti kelentit Mia. Gerakan pinggul Mia makin keras mengikuti rasa nikmatnya. Tak lama kemudian tangan Mia dengan keras meremas rambut Dicky dan mendesakkan kepalanya ke memek. Lalu..

"Ohh.. Enak, sayangg.. Mmff.. Sshh..." jerit kecil Mia terdengar ketika Mia mencapai puncak kenikmatan.. Orgasme..

Dicky segera menghentikan jilatannya lalu naik ke atas tubuh istrinya itu. Walau mulut masih basah oleh cairan memek Mia, Dicky langsung melumat bibir Mia. Miapun langsung membalas ciuman Dicky dengan hebat. Sambil tetap berciuman, tangan Mia segera memegang dan membimbing kontol Dicky ke lubang memeknya. Selang beberapa detik kemudian.. Bless.. Bless.. Bless.. Kontol Dicky lansgung keluar masuk memek Mia. Keduanya bermandi peluh sambil sesekali terdengar desahan kenikmatan mereka.

"Memeknya legit, sayang.. Enak..." bisik Dicky. Mia tersenyum sambil menggoyangkan pinggulnya.
"Memang kenapa?" tanya Mia.
"Aku tidak pernah bosan menyetubuhi kamu..." bisik Dicky sambil terus memompa kontolnya. Mia tersenyum.
"Kalau wanita lain rasanya bagaimana," tanya Mia lagi.
"Aku tidak pernah bersetubuh dengan wanita lain, kok..." kata Dicky.

Mia tersenyum lalu merangkulkan kedua tangannya ke pundak Dicky sambil tetap menggoyangkan pinggulnya mengimbangi gerakan kontol Dicky.

"Saya mau tanya, sayang..." kata Mia.
"Apa?" kata Dicky.
"Tubuh Mbak Evi, tetangga kita itu, bagus tidak..?" tanya Mia.
"Ah kamu pertanyaannya ada-ada saja..." kata Dicky tak menghiraukan.
"Saya serius, sayang.. Jawab jujurlah. Tidak apa-apa kok..." kata Mia.
"Tadi lihat belahan buah dadanya tidak?" tanya Mia.

Dicky mengangguk. Mia tersenyum sambil terus menggoyangkan pinggulnya.

"Jujur.. Iya, tubuh dia bagus. Dan tadi aku sempat lihat belahan buah dadanya. Marah?" kata Dicky sambil mengentikan gerakannya.

Mia tersenyum sambil terus menggoyang pinggulnya.

"Jangan berhenti dong, sayang.. Terus setubuhi saya.. Mmhh..." kata Mia.
"Saya tidak marah kok. Justru saya suka mendengarnya..." kata Mia.
"Kenapa?" tanya Dicky heran.
"Tadi waktu saya lihat kamu berjoget dengan Mbak Evi, tidak tahu kenapa ada perasaan aneh..." kata Mia.
"Tadi tiba-tiba saya membayangkan kamu bermesraan dengan Mbak Evi..." lanjut Mia lagi.
"Kenapa begitu?" tanya Dicky.
"Saya tidak tahu..." kata Mia.
"Kamu cemburu?" tanya Dicky.
"Tidak sama sekali. Justru sebaliknya, saya sangat ingin melihat kamu bermesraan dengan Mbak Evi..." kata Mia.

Dicky tersenyum.

"Kamu lagi horny kali ya, tadi..." kata Dicky tanpa menghentikan gerakan kontolnya.

Mia kembali tersenyum. Setelah beberapa lama memompa kontolnya, Dicky mengejang, gerakannya bertambah cepat.

"Aku mau keluar, sayang.. Ohh..." bisik Dicky.
"Tahan dulu sebentar, sayang.. Saya juga mau keluar.. Mmhh..." bisik Mia sambil mempercepat gerakan pinggulnya.

Tak lama tubuhnya mengejang, tangannya kuat memeluk tubuh Dicky.

"Mau keluar, sayangghh..." jerit Mia.
"Ohh.. Nikmat, sayang.. Ohh..." jerit kecil Mia ketika mencapai orgasme.

Selang beberapa detik, Dicky juga semakin mempercepat gerakannya. Sampai akhirnya.. Crott.. Crott.. Crott.. Air mani Dicky menyembur di dalam memek Mia. Dicky mendesakkan kontolnya dalam-dalam ke memek Mia.. Tubuh keduanya lemas saling berpelukan sementara kontol Dicky masuk berada di dalam memek Mia.

Bersambung . . .

Berbagi rasa - 2

"Mau tidak kalau saya minta kamu maen dengan Mbak Evi.. Saya serius," kata Mia sambil memeluk pundak Dicky.
"Kenapa sih kamu mau yang aneh-aneh begitu?" tanya Dicky.
"Saya tidak tahu jawabnya, sayang.. Yang jelas ada perasaan horny ketika membayangkan kamu bermesraan dengan Mbak Evi..." kata Mia.
"Mau kan, sayang?" tanya Mia memaksa.
"Kalau aku mau, bagaimana caranya, sayang..." kata Dicky sambil mengecup bibir istrinya.
"Nanti aku yang mengatur..." kata Mia sambil tersenyum.

Dicky juga tersenyum sambil mencabut kontolnya dari memek Mia, lalu bangkit dan berpakaian. Merekapun tidur kemudian.. Banyak cara yang dilakukan Mia agar Evi bisa dekat dengan dan akrab dengan dia dan Dicky. Dan hal itu membuahkan hasil. Evi sekarang mulai sering bertandang ke rumah mereka walaupun hanya untuk sekedar ngobrol.

Sampai suatu malam Mia mengundang Evi datang ke rumahnya.

"Mas Wiryo sudah pergi kerja kan, Mbak?" tanya Mia.
"Sudah dari tadi dong.. Dia dapat bagian shift malam," ujar Evi.
"Eh ada apa undang saya ini malam?" tanya Evi.
"Tidak ada apa-apa kok, Mbak..." kata Mia.
"Kami hanya ingin ajak Mbak nonton VCD baru yang dibeli Mas Dicky," kata Mia sambil melirik kepada Dicky.

Dicky membalas dengan senyuman.

"VCD begituan ya?" tanya Evi bersemangat.

Mia tersenyum sambil melirik Dicky.

"Cepatlah putar!" ujar Evi tidak sabar. Dicky bangkit dari tempat duduknya lalu menuju ke VCD player.
"Mbak Evi suka film jenis apa?" tanya Dicky sambil menyodorkan beberapa keping VCD.

Setelah memilih, Evi segera menyerahkan film yang ingin dilihatnya. Dicky segera memutarnya. Mereka bertiga menonton film BF tanpa banyak bicara. Mereka duduk bertiga di karpet. Mia duduk berdampingan dengan Evi, sementara Dicky duduk dibelakang mereka.

"Udah ada yang bangun, ya..?" kata Mia tersenyum sambil melirik ke arah Dicky.
"Lumayan..." kata Dicky.
"Lumayan apa?" tanya Evi sambil matanya sedikit melirik ke arah selangkangan Dicky yang mulai agak menggembung. Dicky tersenyum sambil menutupi kakinya dengan bantal.
"Mbak Evi seberapa sering begituan dengan Mas Wiryo?" tanya Mia.
"Ah, jarang sekali.. Mungkin karena dia capek," kata Evi sambil matanya terus melihat adegan seronok di video.

Kembali mereka terdiam selama beberapa saat sambil melihat video.

"Sini dong..!" kata Mia kepada Dicky sambil matanya berkedip memberi isyarat. Dicky beringsut mendekati Mia.
"Ada apa sih..?" tanya Dicky.
"Duduk dekat sini dong..." kata Mia dengan suara manja.

Dengan sengaja tangan Mia segera masuk ke dalam Celana Hawaii Dicky. Lalu digenggamnya kontol Dicky yang sudah tegang dan diremasnya pelan. Evi yang melihat hal itu, perasaannya menjadi tak karuan.. Antara rasa malu dan rasa ingin melihat bercamput baur.

"Udah pengen ya?" kata Mia kepada Dicky.

Suaranya sengaja agak keras. Dicky tersenyum sambil matanya melirik ker arah Evi. Evi yang semakin tidak menentu perasaannya, kebetulan melirik ke arah Dicky. Pandangan mereka beradu selama beberapa detik. Evi lalu membuang pandangannya ke arah video. Hatinya berdebar ketika berpandangan dengan Dicky.. Mia melirik ke arah Dicky sambil tersenyum. Lalu dengan tanpa ragu-ragu, Mia menurunkan celana Dicky hingga kontolnya yang besar tampak tegak terlihat. Lalu dikocoknya pelan.. Dicky tetap diam sambil matanya melirik ke arah Evi yang jelas kelihatan gelisah.

"Mbak suka tidak pada barang lelaki yang berbulu banyak?" tanya Mia sambil menatap Evi.
"Mm.. Eh.. Iya.. Iya.. Saya suka..." kata Evi tergagap menatap Mia sambil matanya sekilas melirik ke tangan Mia yang sedang meremas kontol Dicky.
"Kalau kayak gini suka tidak, Mbak?" tanya Mia sambil matanya mengisyaratkan agar Evi melihat ke kontol Dicky.
"Ah, kamu ini..." kata Evi sambil matanya melihat kontol Dicky beberapa saat.

Mia tersenyum. Tangannya meraih tangan Evi, lalu ditariknya ke arah kontol Dicky. Evi menuruti kemauan Mia walau hatinya merasa serba salah..

"Coba pegang, Mbak..." kata Mia sambil tangannya membimbing jari-jari Evi untuk menggenggam kontol Dicky.

Kontol Dicky terasa hangat dan berdenyut di tangan Evi. Nafas Evi memburu. Ada desiran tertentu yang menuntun tangannya bergerak meremas pelan kontol Dicky. Dicky tersenyum sambil melirik ke arah Mia. Mia juga tersenyum sambil mundur agak menjauh. Dicky tanpa diduga tangannya meraih dagu Evi, lalu dengan segera mengecup bibirnya, lalu dilumatnya dengan hangat. Evi yang sudah terangsang gairahnya langsung membalas ciuman Dicky dengan hangat pula sambil tangannya mulai berani mengocok kontol Dicky. Tangan Dickypun dengan segera menyusup ke balik daster Evi. Ditelusuri paha Evi. Elusan tangannya segera naik ke pangkal paha, lalu jarinya diselipkan ke celana dalam Evi.

"Mmhh..." desah Evi sambil menggelinjang ketika jari tangan Dicky menyusuri belahan memeknya yang sudah sangat basah.
"Ohh.. Mmhh..." desah Evi tambah keras ketika jari Dicky keluar masuk lubang memknya.

Pinggulnya sedikit digoyang karena nikmat. Sementara Mia sengaja menjauhkan diri dari mereka. Mia mendapat suatu rangsangan yang amat sangat ketika melihat suaminya bercinta dengan wanita yang Mia sukai. Mia tidak melakukan apapun hanya diam sambil melihat mereka bermesraan. Hanya nafas Mia yang mulai cepat yang terdengar.. Ketika tangan Dicky mulai mencoba melepas pakaian Evi, Evi agak tersentak sesaat. Dengan segera matanya menatap Mia. Tapi ketika dilihatnya Mia tersenyum sambil matanya mengisyaratkan agar Evi melanjutkan bercinta lagi..

Evi sesaat terdiam. Tapi ketika tangan Dicky merangkul dari belakang dan tangannya meremas buah dada Evi, Evi terpejam dan memegang tangan Dicky yang sedang meremas buah dadanya.

"Ohh..." desah Evi seiring dengan jilatan dan pagutan Dicky di lehernya sambil tak lepas tangannya meremas buah dada Evi.

Tak lama Dicky segera melepas daster Evi. Evi tampak agak canggung ketika Dicky melepas BH dan celana dalamnya dari belakang. Dickypun melepas seluruh pakaiannya. Segera setelah itu Dicky menindih tubuh telanjang Evi. Jilatan lidah dan remasan tangan Dicky pada buah dada Evi membuat Evi menggelinjang merasakan nikmat.

"Ohh.. Oohh..." desah Evi ketika jilatan lidah Dicky turun ke perut lalu turun lagi menyusuri selangkangannya.

Pinggulnya bergoyang mengikuti desiran rasa nikmat.. Mia tetap diam menyaksikan tubuh telanjang suaminya yang bergumul mesra dengan Evi. Nafasnya makin memburu waktu melihat kontol Dicky dihisap sambil dikocok oleh Evi. Tanpa terasa tangannya menyelusup ke dalam celana dalamnya. Lalu jarinya mulai menggosok-gosok belahan memeknya sendiri. Entah mengapa Mia sangat menikmati ketika Dicky memompa kontolnya ke dalam mulut Evi. Nafas Mia semakin memburu, juga satu jarinya semakin cepat keluar masuk memeknya sendiri ketika melihat Dicky mulai menyetubuhi Evi. Desahan dan erangan mereka membuat gairah Mia bertambah naik..

"Ohh.. Sshh..." desah Evi ketika Dicky dengan perkasa mengeluar masukkan kontol di memeknya.
"Gimana rasanya, Mbak?" tanya Dicky sambil mengecup bibir Evi.
"Ohh sangat enakk.. Mmhh..." kata Evi sambil merangkul pundak Dicky, sementara pinggulnya bergoyang mengikuti gerakan Dicky.

Entah sudah berapa lama mereka bersetubuh disaksikan Mia, sampai akhirnya Evi memeluk tubuh Dicky kuat-kuat. Memeknya didesakan ke kontol dicky dalam-dalam. Gerakan pinggulnya makin cepat. Lalu tiba-tiba tubuhnya bergetar sambil mendesah panjang.

"Oohh.. Oohh..." desah Evi terkulai lemas setelah mendapat orgasme.

Sementara Dicky masih terus menggenjot kontolnya di memek Evi yang sudah lemas. Gerakannya makin cepat ketika Dicky merasakan ada sesuatu yang mendesak nikmat di kontolnya. Tak lama segera dicabut kontolnya dari memek Evi, lalu digesek-gesekannya pada belahan memek Evi.

Sampai akhirnya.. Crott! Crott! Crott! Air mani Dicky tumpah banyak di atas bulu-bulu memek Evi. Tubuh Dicky lalu lemas terkulai di atas tubuh telanjang Evi. Mia yang melihat hal itu segera menghampiri mereka. Diusapnya pantay Dicky.

"Masih kuat tidak, sayang..?" bisik Mia ke telinga Dicky.

Dicky segera mencabut kontolnya dari memek Evi lalu bangkit. Evi juga demikian.

"Kenapa sayang?" tanya Dicky sambil mengecup bibir Mia.
"Saya pengen..." kata Mia sambil memegang kontol Dicky yang lemas dan masih basah.
"Aku masih lemas, sayang..." kata Dicky.
"Sebentar lagi saya minta jatah ya, sayang..." kata Mia sambil mencium bibir Dicky.
"Gimana, Mbak?" tanya Mia kepada Evi sambil tersenyum. Evi tersenyum sambil berpakaian.
"Aku bisa ketagihan, loh..." kata Evi.
"Kapan saja Mbak perlu, datang saja kesini..." kata Mia tersenyum pula.
"Aku pulang dulu ya," kata Evi sambil memeluk Mia erat.

Mia menggangguk

*****

Menurut pengakuan Mia, sudah beberapa puluh kali Evi bersetubuh dengan suaminya di depan mata. Mia bukan biseks. Mia hanya merasa mendapat suatu gairah dan rangsangan yang sangat kuat ketika melihat suaminya menyetubuhi wanita lain yang disukai Mia sendiri. Dan menurut Mia juga, sampai detik ini mereka tidak pernah main bertiga. Hal ini yang membuat suasana hidup Mia menjadi berwarna cerah.. Demikian.

Tamat

Gairah di persimpangan jalan - 1

Ari Rumaidi adalah salah salah satu mahasiswa Informatikan PTS swasta terkemuka di Jakarta bertinggi badan 170 cm dan berat badan 58 kg, berkumis tipis, tidak begitu kekar memang akan tetapi otaknya sangat brilian dalam hal mengotak-atik serta pemograman komputer. Ia juga mempunyai bengkel servis Handphone yang ia kelola sendiri dengan si Mamat tukangnya. Biasanya liburan semester seperti ini Ari pulang ke rumah neneknya di Bandung atau pulang ke rumah orang tuanya di Semarang, akan tetapi liburan kali ini Ari sedikit malas dan ia pilih mengotak-atik elektronik di kios sevis HP-nya di salah satu Mall terkemuka di Jakarta.



"Selamat siang Ari," sapa suara cewek lembut nan menawan.

"Yach.. siang.." jawab Ari seraya medongakkan kepalanya ke arah suara itu.

"Eh.. Shinta.. tumben kemari, dari mana saja kamu?" tanya Ari.

Shinta adalah "kembang kampus" ditempat Ari kuliah dan Ari sudah mendengar selentingan bahwa Shinta juga sering gonta ganti laki-laki namun Shinta dan Ari beda fakultas. Kadang Shinta terlihat berjalan bareng dengan cowok muda cakep kemudian ganti dengan om-om senang, lantas beberapa waktu lalu Shinta akrab dengan Sony teman sefakultas Ari dan baru beberapa minggu mereka tidak terlihat lagi bermesraan.



"Ini Ar! HP-ku ngadat tolong betulin yach.." seru Shinta seraya menyerahkan HP-nya kepada Ari.

"Tumben Ar nggak liburan ke Bandung, kan di sana banyak mojang-mojang nan menawan?" selidik Shinta.

"Nggak.. males saja mendingan cari duit, sini coba aku periksa," kata Ari seraya berdiri meminta kemudian memeriksa HP Shinta.

"Ar! emmhh.. bisa ditunggu nggak," tanya Shinta.

"Nggak usah dech.. entar malem aku anterin ke rumah kamu, kasih saja alamatnya." kata Ari dengan menyodorkan secarik kertas.

"Itung-itung main ke rumah kamu, aku kan belum pernah sama sekali." sambung Ari.

"Thanks.. tapi gue punya kartu nama khok, nich" Shinta menyodorkannya kepada Ari.

"OK, tunggu entar malem yach jam 19:30" sahut Ari.

"Jangan Ar! jam 21:00 saja, soalnya aku ada janji dengan keponakan gue," cegah Shinta.

"Ehem.. keponakan apa kepenakan?" ledek Ari.

"Iiich.. sebbel dech.." kata Shinta sambil mencubit lengan Ari. Ari hanya bisa meringis saja dan melihat Shinta berlenggok ria dengan pingulnya yang aduhai.

"Huuhh.." keluh Ari.



Memang, siapa yang tidak kenal dengan Shinta di kampus itu, disamping dia anak pejabat ia juga betul-betul cantik. Tubuhnya sekitar 167 cm, badannya tinggi langsing dan kulitnya kuning langsat bak pengantin, namun ia juga terkenal sombong dan materialistis dimata cowok maupun cewek. Payudaranya seksi 36 dan rambutnya tergerai indah. Bibirnya seksi kelihatan kecil namun tebal dan bergigi indah apalagi kalau tersenyum dengan lesung pipitnya. Ari sendiri orangnya liberal namun tidak pernah berpikiran buruk terhadap gadis manapun, ia hanya berkonsentrasi pada bisnisnya.



Pukul 20:00 Ari mulai memacu Kijang hadiah ulang tahunnya yang ke-20 dari ayahnya dua tahun lalu dan hampir 45 menit Ari sudah menemukan alamat Shinta. Ari sengaja berpakaian santai mengenakan celana pendek komprang dan T-shirt made in Dagadu bermotifkan kartun lucu karena disamping ke rumah Shinta ia sebenarnya akan main ke rumah Sri pacarnya untuk menyerahkan HP teman sekost Sri. Ia lantas membelokkan kijang kesayangannya itu ke arah gerbang kemudian turun untuk memencet bel.



"Treett.. Treett.. Treett.." suara bel telah berbunyi.

Agak lama ia menunggu kemudian datanglah pembantu Shinta untuk membukakan gerbang.

"Nggak usah dibuka Bik, aku cuman nitip ini buat Shinta." sergah Ari sambil menyerahkan HP Shinta kepada Bik Ijah.

"Ngg.. tapi Mas, tadi Non Shinta pesen kalo ada Mas Ari disuruh masuk dul.." belum habis Bik Ijah berkata kata Shinta menyahut dari kejauhan.

"Ari.. masuk dulu, soory aku habis mandi nich.. aku tunggu di ruang tamu yach!" teriak Shinta.

Ari tidak menjawab, segera setelah Bik Ijah membukakan gerbang ia memasukkan kijangnya ke halaman namun Ari sempat melirik ke gumpalan pantat Bik Ijah yang masih padat.



Rumah itu berhalaman luas dan berhiaskan taman nan elok serta kolam ikan lengkap dengan air mancurnya.

"Mas Ari mau minum apa?" tanya Bik Ijah setelah Shinta menyilakan Ari duduk.

"Jahe hangat boleh?" jawab Ari singkat.

Sebelum Bik Ijah menghilang dari depan Ari, ia melihat Bik Ijah sempat memberikan senyuman genitnya kepada Ari.

"Dasar genit.. tapi bahenol juga itu Bibik," batin Ari sambil melirik ke arah Shinta dan Shinta tersenyum penuh arti di mata Ari.

"Aku baru saja datang dari rumah Sony, kami pun bertengkar hebat karena Sony orangnya pencemburu berat," Shinta mencoba menjelaskan.

"Lagian dia juga.." Shinta menghentikan pembicaraannya sejenak dan matanya menerawang jauh.

"Dan akhirnya kami pun berpisah.." imbuh Shinta datar, Shinta kemudian menyilangkan kedua pahanya yang bulat mulus itu, tungkainya kecil dan indah.



"Dilihat dari tungkainya, Shinta mempunyai nafsu seks besar dan tenaga si Sony rupanya tenaga ayam.." batin Ari, dalam hati Ari sendiri pun sudah mendengar kalau Shinta itu hasrat seksnya meledak-ledak bak merapi, hal itu dia dengar dari salah seorang sahabatnya yang pernah menjadi gacoan Shinta. Dari penjelasan Shinta, Ari tidak percaya 100% dilihat dari mimiknya yang tidak serius dan kata-kata Shinta yang tak sempat terucap tadi. Ari sendiri adalah cowok bertubuh langsing bukan atletis dan dilihat dari tinggi dan kepalan tangannya, penis Ari pasti lebih dari cowok-cowok lainnya. Panjangnya sekitar 15 cm dengan diameter 3 cm, Ari sendiri pandai berolah gerak di ranjang dan tanpa sepengetahuan teman-teman lainnya Ari sudah seringkali diajak kencan oleh tante-tante girang di Jakarta.



"Sorry, aku pakai ginian nggak pa-pa kan, abis mandi kan biar segar.." Shinta mencoba memohon karena ia hanya memakai sleeping jas tanpa BH. Kedua putingnya terlihat menggunung tegak ke depan sehingga kedua putingnya tersembul merangsang di balik sleeping jasnya.

"Nggak pa-pa kok, santai saja.. malah.. oh nggak.." kata Ari.

"Malah apa Ar.. kamu senang, kan?" tanya Shinta diikuti silangan kedua pahanya yang mulus.

"I.ii.iya.. eh.. nggak.." jawab Ari sekenanya.

"Nggak pa-pa Ar, kita udah sama-sama besar kok," seru Shinta menetralkan suasana kaku yang tiba-tiba menyelimuti mereka.

"Silakan diminum jahenya Ar?" kata Shinta mempersilakan Ari.

"Terima kasih Shint, oh iya nich HP-mu udah betul, kalo ada komplain hubungi aku yach." jawab Ari seraya meneguk habis jahe bikinan Bik Ijah.



Entah dicampur dengan ramuan apa jahe itu sehingga tubuh Ari terasa lebih hangat dan berdesir kencang darahnya. Bik Ijah memang pembantu yang hebat, selain dia pintar memasak dia juga pandai mebuat minuman berkhasiat.

"Bik Ijah memang masih muda sekitar 32 tahunan menurut taksiran Ari dan ia adalah bukan janda juga bukan gadis karena ia telah ditinggal entah kemana oleh suaminya sekitar 3 tahun lalu," jelas Shinta. Shinta lantas mencoba HP-nya dan ia meminta Ari keluar, ke halaman sebentar karena ia akan menghubungi HP Ari.

"Yach Shin.. suaranya bagus kok," jawab Ari singkat.

"Entar dulu jangan di tutup dulu," sergah Shinta.

"Emang ada apa Shint? udah bagus kok suaranya aku terima," kata Ari sambil berjalan ke arah ruang tamu kembali.



"Emmh.. kamu mau nggak tidur di sini entar malem?" pinta Shinta.

Ari kaget bukan kepalang karena hal ini tidak pernah ia bayangkan sama sekali dan ia tiba-tiba setengah gugup, sejenak ia terdiam namun batinnya bergejolak karena minuman jahe hangat dicampur telor bebek, merica dan madu murni.

"Mmm.. tapi.." kata Ari.

"Nggak pa-pa Papiku lagi ke Surabaya kok, biasa ada proyek dan Mamiku lagi ke Bandung karena ada acara keluarga," kata Shinta.

"Jangan ngeres dulu akh.." imbuh Shinta.

"Eh siapa yang ngeress, aku cuman bingung.. kan ada Bik Ijah!" sergah Ari.

"Aaakh.. ngak usah pakai alasan macem-macem, pokoknya mau kagak?" tanya Shinta.

"Boleh.." sahut Ari singkat.

"Kalo gitu kita ke ruang tengah saja yach sambil lihat televisi atau film bagus karena aku punya koleksi baru dari Papi saat dinas ke luar negri.." ajak Shinta.



Berdua mereka menuju ke ruang tengah nan luas itu, berhamparkan karpet hijau muda dan bantal bantal dacron besar. Di sisi ruangan itu ada sebuah sofa panjang mengahadap ke kolam renang Ruangan itu terpisah dengan ruang lain dan hanya terhubung dengan sebuah pintu, menghadap ke kolam renang di samping rumah. "Kolam renang itu sendiri terisolasi dari ruangan lainnya dan sangat privacy sekali apalagi berdua dengan dara cantik," Ari menghela nafasnya dalam-dalam.Sedetik tubuh Ari mulai nyaman di lingkungan baru tersebut, lantas mengambil sebatang kretek 76-nya kemudian mengambil tempat duduk di karpet. Shinta lalu menceritakan tentang diri dan keluarganya yang sudah terancam hancur, papinya punya WIL dan maminya juga sering berganti-ganti gigolo untuk melampiaskan hasratnya.



Malam semakin larut dan jam dinding sudah menunjukkan pukul 21:30, Ari dan Shinta masih terpaku di hamparan karpet menyaksikan acara TV yang kelihatan membosankan. Berkali-kali Shinta memindah channel akan tetapi tidak ada yang menarik kemudian setelah ngomong kepada Ari Shinta menyalakan VCD semi XX.

"Mau nggak liat BF daripada acaranya membosankan, aku punya dua nich?" tanya Shinta.

"Aku sich seneng saja.." jawab Ari datar dikuti kepulan asap harum kretek kesukaannya.

"Ach sialan, emang lo yang nggak seneng apaan?" kata Shinta sambil menyalakan VCD XX-nya.

Kedua insan itu ngobrol ngalor-ngidul sambil menikmati anggur merah kesukaan Shinta dan sesekali saling cubit.



Meskipun bukan pacarnya, akan tetapi Shinta adalah teman akrab Ari untuk tempat belajar mata kuliah yang Shinta sendiri tidak mampu mengatasinya. Biasanya Shinta konsultasi mata kuliah dengan Ari di bengkel kerja Ari di Mall dan sehabis itu Shinta traktir makan siang. Tak lebih dari itu memang hanya sebatas hubungan baik dan Ari juga tidak berani bertindak lebih jauh lagi karena takut Shinta tersinggung ataupun Ari bukan type Shinta.



Pada adegan ranjang, wajah Shinta nampak mulai memerah tegang menahan hawa nafsunya. Kedua pahanya yang sejak tadi diam kini mulai kelihatan gelisah dan ia coba untuk digesek-gesekkan sendiri. Ari tahu memang apa yang sedang dialami Shinta dan juga pernah dialami oleh Sri, pacarnya. Shinta dengan sedikit kaku mendekatkan diri kepada Ari dan berbisik, "Ar! mau nggak kamu puasin aku malam ini?" tanya Shinta mengharap. Tanpa menjawab Ari kemudian mendekatkan diri ke shinta yang bersandar pada sofa, lengannya dilingkarkan di pundak Shinta kemudian Ari membisikkan sesuatu ke telinga Shinta.



"Kamu horny malam ini Shin?" tanya Ari.

"Akkh.. pake nanya lagi, mumpung lagi sepi.." kata Shinta sewot seraya mendaratkan french kiss di bibir Ari.

"Bik Ijah kemana..?" tanya Ari.

"Mau main berdua dengan Bik Ijah, kata Sony sich mainnya Bik Ijah lembut menghanyutkan." imbuh Shinta.

"Tapi entar lo puasin gue dulu nanti kalo memang aku udah ngilu kita gantian." kata Shinta kemudian merebahkan dirinya di pangkuan Ari.

"Mmmpphh.. aku ingin kehangatanmu malam ini Arr, karena tak ada lagi yang aku dapat harapkan.." pinta Shinta sambil meraba penis Ari yang sudah mulai setengah tegang.

"Mmpph.. punyamu panjang and besar.. benar dugaanku.." bisik Shinta.

"Kamu pasti akan menggelinjang kegelian nikmat Shin." sahut Ari seraya mendaratkan french kiss.



Berdua mereka sudah hanyut dalam buaian cumbuan penuh birahi, Ari sendiri sudah sibuk dengan pekerjaan tangannya di kedua bukit kenyal Shinta yang semakin kenyal saja. Tubuh Shinta menggeliat bak cacing kepanasan dan perlahan tangan Ari turun ke arah perut Shinta melepas tali sleeping jasnya. Kini sleeping jas telah terbuka dan tubuh Shinta mulai kelihatan mulusnya, di sudut selangkangannya tumbuh rambut-rambut halus terawat dan tepat di bawahnya ada segumpal daging yang merekah berwarna pink.



Tangan Ari turun ke bawah lagi untuk menggapai vagina Shinta yang sudah mulai membasah, dengan tetap mencumbui bibir Shinta Ari mulai membuka bibir luar vagina Shinta yang tebal seksi itu.Kedua jari telunjuk dan jari tegahnya ia buka membentuk huruf V. Tangan "V" Ari itu mulai menggosok lembut, mengapit, menjepit lembut dan sesekali dibuka lebih lebar lagi. Sementara jempolnya menekan lembut klitoris Shinta untuk memberikan sentuhan yang luar biasa nikmatnya. Tubuh Shinta kini oleng diiringi desahannya, sleeping jasnya ia buka tergesa-gesa dan dihempaskan di sofa.



Bersambung .. . . .

Gairah di persimpangan jalan - 2

Tubuh mulus putih itu kini menggelinjang-gelinjang di pangkuan Ari, sentuhan tangan Ari tidak hanya terbatas itu saja dan pada suatu kesempatan telunjuknya masuk ke lubang vagina Shinta dan di tusuk-tusukan lembut. "Uuugghh.. oogghh.. oogghh.. Arr.. aaghh.. tusuk teruss.. sshh.. Arr.." pinta Shinta terbata-bata memelas. Matanya merem melek, kedua bibirnnya terbuka mendesis, mendesah dan kedua pahanya ia buka lebar-lebar menikmati sensasi yang ada. Tangannya mecoba menggapai karpet untuk diremas karena ia menahan rasa ngilu, geli dan nikmat bercampur jadi satu karena permainan dua jari Ari. Kepalanya terlihat sesekali terangkat tak kuat menahan sensasi dua jari dari Ari. Shinta lalu melipat lututnya dan membuka lebar-lebar agar tangan Ari mampu membuatnya menggapai orgasme yang dirindukannya. Tubuhnya semakin bergelinjang hebat dan kini tangan Shinta mulai merangsek celana pendek Ari, kemudian dilemparkannya sembarangan lalu tangannya terlihat menelusup ke dalam CD Ari. Ari tampaknya terengah juga mendapat perlakuan seperti itu, apalagi dalam sekejap Shinta sudah melepas CD Ari dan melumat batang pejal nan hangat itu.



"Aaakkhh.." pekik Ari saat Shinta mulai mengulum "topi baja" penisnya. Sensasi yang ditimbulkan akibat lingkaran kepala penis itu membuat Ari tegang dan sejenak ia melepaskan kuluman di puting Shinta. "Sesshh.. ookhh.. Arr.." Shinta hanya bisa merintih saat Ari mulai merebahkan dirinya dan mengatur posisi Shinta di atas. Shinta berdiri merangkak dengan lutut kirinya sementara lutut kanannya tetap tegak bagi orang jongkok. Posisi demikian adalah posisi bagus untuk melakukan seks 69 karena dengan begitu selangkangan Shinta mengangkang maksimal dan vaginanya terlihat merekah pink. Dengan lahap Ari mulai mematukkan ujung lidahnya tepat di klitoris Shinta sehingga membuat Shinta kelonjotan, sementara kedua jari telunjuk dan tengahnya membuka, sesekali menggosok lembut bibir luar vagina Shinta. Si pemilik lubang hanya mampu mendesah saat lendirnya mulai melumasi lubang kenikmatan miliknya dan memberikan rasa geli yang amat nikmat.



"Aaaoogghh.. emmpphh.. sedoth teruss Arr.." desah Shinta ketika Ari mulai menghisap lembut bibir dalamnya dan dilain bagian tangan Shinta juga mulai melakukan pekerjaannya mengocok, kadang membelai lembut batang hangat milik Ari. Ari hanya bisa merasakan sedikit asin saat mani Shinta mulai meleleh sedikit demi sedikit dan dihisapnya hingga terasa kesat bagi Shinta.Shinta sendiri rupanya dendam dengan orgasme karena si Sony ternyata hanya ayam sayur dimata Shinta.



Kocokan Shinta di penis Ari sebaliknya tidak terasa nikmat bagi Ari karena Shinta kocokannya tak karuan alias ngawur. Shinta hanya konsentrasi menggapai nikmatnya orgasme dengan mulut Ari dengan gelitik kumisnya. Gelitik kumis Ari di lembah antara bibir luar dan bibir dalam membuat Shinta semakin erat mencengkeram penis Ari dan karpet. "Ooouugghh.. aakkhh.. aakkhh.. Arr.. oogghh.. kumismu.. gelii.. aaghh.. aahh.. aahh.. aku.. keluaarr.." ceracau Shinta tak karuan, pinggulnya dihempaskan ke belakang menekan wajah Ari, tubuhnya mendongak melepas cengkeraman tangannya di penis Ari. Wajahnya mendongak ekspresif, matanya merem melek, kedua tangannya terlihat meremas rambutnya, kedua bibirnya terbuka lebar dan mendesis kenikmatan. Lidahnya menjilat bergantian di kedua lapis bibirnya menjulur tak peduli suaranya memekik memenuhi ruang itu.



Ari masih terlihat menjilat sisa-sisa lelehan mani Shinta yang masih terlihat meleleh di bibir luar lubang vaginanya hingga kesat dan Ari telah mempersiapkan jurus kedua bagi Shinta.Ari kelihatan puas membuat Shinta kelonjotan. "Oogghh.. ooghh.. makasih Arr.. emmpphh.." Shinta masih terengah kelelahan.



Perlahan Ari membalikkan tubuh langsing Shinta dan kemudian menggotongnya.

"Mau kemana Yang?" tanya Shinta manja dan masih terlihat sisa-sisa orgasme pertamanya namun Shinta tidak protes sebagai tanda tidak kesetujuannya.

Dalam bopongannya Shinta mencoba meraih bibir Ari dan mengulumnya.

"Heemmhh.. Yang.. aku.. pasti akan kau buat puas malam ini," bisik Shinta.

Kedua tangannya tetap dililitkan di leher Ari, saat Ari mulai menyandarkan tubuh indah kebanggaannya di sofa panjang. Shinta hanya terlihat pasrah apa yang diperbuat Ari yang kini beringsut mengambil dacron kecil dan diselipkannya di bawah pantat Shinta. Shinta sadar bahwa ia hanya ingin menjadi obyek untuk beberapa kali tempo foreplay ini maka dari itu ia hanya pasrah apa yang akan diperbuat Ari padanya.



Ari berlutut dan sejenak memandangi vagina Shinta yang terlihat tambah mencuat dan merekah karena pengaruh ganjalan dacron kecil di pantatnya. Klitorisnya semakin kelihatan menonjol kenyal karena terangsang hebat. Ari melipat kedua lutut Shinta dan meletakkan kakinya bertumpu pada sofa sehingga kelihatan seperti jongkok lalu mengisyaratkan Shinta untuk membuka lebar-lebar. Shinta hanya terpejam dan mendesis lembut saat Ari mulai mencumbui lubang vaginanya.



"Hemmhh.. vaginamu..harum.. Shin.. dann.. emmhh.." puji Ari yang masih terlihat sibuk dengan hisapan dan kuluman di selangkangan Shinta.

"Oookhh.. hisapanmu.. aakhh.. Ari sayaangg.." rengek Shinta panjang saat Ari mulai membuka bibir luar vagina Shinta dan menghisap bibir dalamnya.

"Aduuhh.. aahhgghh.. aahhkk.. aakkhh.. uughghh.. ngg.. emmpphh.." Shinta mulai mengigil lagi.

"Ooohhkkhh.. aakkhh.." pekik Shinta tertahan saat tiba-tiba Ari merebahkan tubuhnya dan kembali mengangkat ke tepi sofa. Pantat seksi Shinta diletakkan di sandaran tangan sisi sofa tersebut dan kedua lututnya tetap terlipat dan pahanya mengangkang lebar.



"Uuugghh.. Arr.. mau diapain guee.." tanya Shinta lemah. Tubuhnya tergolek indah dan pinggulnya terangkat tinggi di sandaran tangan sisi sofa. Ari tergopoh-gopoh ke sisi pinggul Shinta di sisi sofa dan ia berlutut di sana, tangan kirinya mulai meremas lembut dada Shinta yang kenyal. "Oookhhk.. Yaanngg.. aakhh.. ookhh.. nikmathnyaa.. aahhgghh.." desah Shinta merasakan kecupan bibir Ari di labia minoranya. Sensasi akibat gelitikan kumis Ari dan pilinan tangan kiri Ari di puting kanannya membuatnya teregah-engah. Terlihat Shinta mulai meremas sendiri payudara kirinya, wajahnya tegang memerah menahan birahi yang amat sangat mendesak untuk disemburkan.



"Aaakhh.. aahhgg.. oohhgg.. oohh.. Arr.. aku mau keluaarr.. nikmatt.." pekik Shinta saat kecupan bibir Ari mulai menggesek lembut lemah vaginanya. Bibir dalam vaginanya terhisap lembut namun terasa kuat dan dahsyat, lubang vaginanya juga terasa penuh gerigi lembut lidah Ari yang menyusup ke sana. Vagina Shinta seperti menetek ke lidah Ari, sementara lidah Ari mulai menjulur keluar masuk di vagina Shinta.



"Akuu.. kelluuarr.. Arr.. aaggh.. sshh.. aaghh.. aaghh.. uugghh.. sshh.. ooh my god.. nikmath banget.." Shinta terpekik keras saat Ari menghisap dalam dan mengapit kedua bibir dalam vagina Shinta dengan kedua bibirnya sementara lidah Ari dijulurkan maksimal ke dalam lubang rahimnya dan mengaduk aduk G-spot Shinta.



"Arr.. aku nggak tahaann.. nngghh.. aakgghh.. oohh.. Arii.. mmpphh.." ruangan itu kini penuh dengan desahan histeris Shinta. Shinta sudah tidak mempedulikan Ari lagi dan ia hanya ingin segera dapat menyemburkan maninya banyak-banyak agar tubuhnya terasa ringan dan lega."Aaahh.. Arr.. Aku keluarr.. ooghh.. laagii.. aawww.. aaghh.." pekik Shinta mengakhiri orgasmenya yang entah keberapa. Tubuhnya kelonjotan, bergelinjang-gelinjang kenikmatan. Ari sendiri sebenarnya sudah merasakan orgasme saat Shinta menikmati permainan oralnya, lubang penisnya terlihat meleleh cairan bening. Ari masih mengulang-ulang permainan mulutnya di vagina Shinta kali ini ia berdiri merangkak mengangkangi Shinta.



"Arr.. udah doongg.. ayoo masukiinn.." rengek Shinta.

"Mmmpphh.. semakin harum saja lubangmu Shin, apalagi cairanmu ini.." kata Ari seraya membenamkan kembali wajahnya di lubang Shinta.

"Sluurrphh.. Sluurrphh.." suara lidah Ari kenikmatan.

"Aaawww.. aawww.. uugghh.. aa.. Arr.. Pleasee.. masukin.. cepet.." rengek Shinta lagi.

Rupanya Shinta sudah tidak kuat menahan geli yang amat sangat dari permainan lidah Ari apalagi kalau dihisap bibir dalamnya terasa ubun-ubunnya ikut terhisap. Shinta sudah hampir tak punya tenaga lagi terasa terkuras bersama semburan maninya berkali-kali.



Ari kemudian membimbing Shinta bersandar di sofa lalu memberikan french kiss yang lembut berdiri dengan lututnya, cukup lama kedua insan itu bercumbu. Ada sensasi lain yang ia rasakan selain nafsu dan kini hatinya sedikit gundah.



"Ar! makasih yach, permainanmu memang hebat.." puji Shinta.

"Maukah kamu." imbuh Shinta.

"Ssstt.. nggak perlu dilanjutin aku tahu kok apa yang kamu akan ucapkan, lagian permainanku kan belum puncak.." sergah Ari sambil menempelksn telunjuk kanannya di bibir Shinta.

Kedua insan itu lantas terdiam kemudian saling membisu.

"Shin, maukah kamu menjadi kekasihku, lebih dari apa yang kita lakukan sekarang..?" tanya Ari sembari melepas kecupan di kening Shinta memecah kesunyian.

Rupanya diam-diam Ari terpesona dengan ekspresi Shinta, demikian Shinta takluk di lutut Ari. Ari kemudian teringat Sri pacarnya yang ia pacari hampir 1 tahun lalu dimana Sri hampir tidak pernah mau dengan permainan oral Ari. Sri sendiri tidak begitu antusias dengan seks dan hal ini tidak seimbang dengan hasrat Ari.



"Ar! kamu udah tahu semua tentangku kan? dan aku tidak mau mengecewakan kamu." kata Shinta.

"Apa pun itu Shin aku menerimanya, aku juga bukan orang yang suci." balas Ari datar.

"Lagian kamu orangnya hebat, nafsunya hot dan yang paling aku suka adalah keenam bibirmu," puji Ari."Enam..?" Shinta penasaran.

"Iya emang kamu nggak merasa.. apa?" tanya Ari sambil menenggak jahe gingsengnya yang kini sudah mulai digin. Shinta masih tampak kebingungan dengan maksud Ari. Kemudian Ari mengambil tempat duduk di sebelah kiri Shinta lalu mengambil kedua paha Shinta dan ditempatkan di pahanya. Tangan kanannya merengkuh tengkuk Shinta yang kini tergolek di pelukannya.



"Aku suka tubuhmu yang indah Shin.. tinggi, pinggulmu panjang, bibirmu yang tebal ini mengingatkan aku seperti milik Titi DJ, pantatmu padat berisi apalagi ini.." puji Ari seraya mengulum puting Shinta.

"Emmpphh.." sedang tapi kenyal bukan main.

"Ditambah dengan ini.. keempat bibir bawahmu yang tebal lembut dan harum terawat," puji Ari tak henti-hentinya.

Shinta semakin melambung ke awan dengan pujian dan rayuan Ari, kini aliran darahnya mulai mengalir deras kembali dan hangat terasa di bagian bawah pori-porinya. Tubuhnya terasa haus pelukan lagi menandakan gairahnya terbakar lagi. Ari masih terlihat menjilat, mengulum seluruh bagian kepala Shinta, penisnya terlihat sedikit mengendor. Ari tahu bahwa Shinta mulai horny lagi dan kini ia meningkatkan tempo pemanasannya.



"Uuugghh.. aagghh.. aagghh.. Arr.. aku mau lagi, Yang!" rengek Shinta lagi.

"Kita ke kolam renang yuk.." ajak Ari, kemudian dalam sekejap Shinta sudah dalam bopongan Ari.

Keduanya terlihat mencebur kolam bersamaan. Ari dan Shinta berenang telanjang bersama dan sesekali bercumbu mesra. Lima belas menit kemudian naik ketepian dan berjalan ke arah tembusan pintu dapur.



"Bik Ijaahh.. temenin aku doongg.. pakai tuh baju renangku di kamar mandi.." teriak Shinta keras sambil mengetok pintu.

"Tapi Shin.." sergah Ari.

"Ar, rasanya aku nggak kuat dech meladeni nafsu kamu yang.." Shinta mencoba menghentikan perkataannya seraya mendekat ke Ari.

"Iya Neng Shinta.." sahut Bik Ijah dari dalam.



Setengah menit kemudian Ijah keluar dan sudah mengenakan pakaian renang milik Shinta dan handuk dililitkan di pinggulnya.

"Wow kalo begini ini sich bukan pembatu tapi pantas jadi nyonya rumah.." guman Ari.

"Tubuhnya sintal, dadanya menggunung 36B, kulitnya kuning mulus, pantatnya.. wow sungguh pemandangan indah.." Ari masih terkagum pada penampilan Bik Ijah.

"Hush.. jangan bengong.. aku duluan.." protes Shinta memecah lamunan Ari.



Kemudian Bik Ijah menceburkan diri ke kolam renang lalu berenang sepuas hatinya. Di sisi kolam Ari dan Shinta mulai bercumbu, Shinta mengapitkan kedua pahanya di pinggul Ari karena kurang tinggi. Ari bersandar di tepian kolam dan mencumbui leher dan bibir Shinta bergantian."Emmhh.. oogghh.. aagghh.. Arr.. shhss.." desah Shinta memulai permainannya. Ijah mendekat ke arah Ari dan Shinta dan mengambil tempat di belakang Shinta, Ia membantu mengikat rambut Shinta. Kemudian Ijah perlahan melepas pakaian renangnya dan menempelkan dada motoknya di punggung Shinta.



"Ooohh.. hangat.. tetekmu.. Biik.. oohh nikmat Ar.." Shinta terbata. Ijah kemudian menggosok dan sesekali menekan sambil diputar payudaranya di punggung Shinta secara teratur.

"Emmphh.. aakhh.. aagghh.. sshh.. nngghh.. Ohh Arii.. lidahmu.. gelii.. oogghgh.. Ijah.. Ijahh.. oogghh.. tetekmu.. ooghh putingmu gelii.." ceracau Shinta tak karuan.

Ari melepaskan satu tangannya dari bokong Shinta dan melesak ke selangkangan Shinta.

"Aawww.. uughh.. pelan-pelan Arr.." Shita kesakitan karena Ari sedikit kasar tadi.

"Ar! penismu udah tegang.. masukin yach," rajuk Shinta lalu merapatkan kedua dadanya ke dada Ari dan menggeser ke belakang pinggulnya.



Sedetik kemudian..

"Slerrpphh.." dan, "Aaagghh.. aagghh.. oohh.. penismu panjang, Yang.." desah Shinta yang kemudian menggoyang pinggulnya pelan.

"Emmpphh.. oohh.. Arr.. nikmat Sayangg.." Shinta merem melek. Sensasi yang ia rasakan adalah kehangatan diantara dua tubuh dan sensasi pijatan air akibat gerakan maju mundurnya.Shinta masih bergelayut di pundak Ari, wajahnya expresif miring ke kiri sementara Ari melingkarkan lengannya di tubuh kedua wanita itu. Ari memainkan lidahnya di rongga Ijah untuk mencumbui wanita bahenol itu dan tampaknya Ijah sudah sangat terangsang. Permainan mulutnya sangat lembut dan penuh birahi, wajahnya memerah menahan birahinya.



"Mmmpphh.. Mass Arii.. ookhh.." desah Ijah.

"Biik puter lagi putingmu.. cepeeth.. aaughh.. aku.. aakk.. takk.. kuuwww.." Ijah tidak menjawab namun kedua putingnya ditekan keras lalu diputarnya, kedua tangannya memilin dan meremas payudara Shinta. Ari sendiri melepaskan kedua sanggahan tangannya di pantat Shinta karena Shinta sudah mempererat himpitan kedua pahanya di pinggangnya. Tangan Ari lalu menjelajahi pantat Ijah kemudian membukanya dan mulai permainan kedua telunjuknya di area antara vagina dan pantat Ijah. Telunjuknya ia gosokkan pelan dari arah belakang. "Ssshh.. oohh.. Mass.. sshh.. Arii.. tusuk lebih dalaam Mass.." Ijah mulai menggigil.



"Arr.. aawww.. aawww.. eengghh.. oogghh.. Aku keluaarr.. aahh.. aahh.. aahh.. oogghh.. ouughh.. sshh.. Arii.. aku gellii.." Shinta lalu mencabut gigitan vaginanya karena geli menahan orgasmenya kali ini. Ia mendorong kuat-kuat kedua kakinya ke dinding kolam sampai Ijah terhempas ke belakang dan gelagapan.



Kemudian Shinta berenang ke tepian, berjalan mengambil handuk lalu duduk di kursi menenggak jamu bikinan Ijah. "Maaf Bik, aku tadi ngilu banget.. sekarang milikmu.." Ari sejak tadi hanya terdiam karena spermanya sebetulnya tadi ingin segera ia semprotkan ke rahim Shinta kini tertunda. Akan tetapi kekecewaannya terobati setelah Ijah mendekatinya lalu mengajaknya ke tepian kolam. Ijah memposisikan dirinya doggy style kesukaannya dan dari sisi kolam yang dangkal Ari menghujamkan 16 cm penisnya keras-keras ke vagina Ijah. Ijah sendiri sebetulnya suka seks gaya sedikit keras dan tampaknya ia menikmati kocokan Ari.



Kocokan demi kocokan Ijah terus melenguh, mendesah, kadang menghempaskan tubuhnya menahan geli akan tetapi Ari kali ini tidak mau melepaskan mangsanya begitu saja, ia mencengkeram pinggul Ijah erat membuat Ijah semakin kelonjotan berteriak-teriak kegelian bercampur nikmat yang amat sangat. "Mass.. Arrii.. akuu.. aaghh.. aaghh.. aaghh.. oohh.. mauu.. lagii.." teriak Ijah panjang. Ari mekin keras menghujamkan penisnya ke dalam rahim Ijah dan semenit kemudian Ari dan Ijah berteriak keras bersamaan melepas semua beban birahinya. Shinta hanya tersenyum kelelahan di kursi sana lalu menawarkan minuman penghangat bagi Ari dan Ijah. Malam bergulir seiring dengan desahan manusia yang haus seks di rumah itupun mengiringi datangnya sang fajar.



Seminggu setelah kejadian itu, Ari putus dengan Sri dan resmi menjadi pacar Shinta dan rasanya mereka cocok dalam hal seks. Beribu macam gaya telah mereka lakukan untuk meraih kepuasan birahinya. Ijah sendiri kemudian menjadi wanita panggilan papan atas, atas saran Shinta daripada hanya sebagai pembantu.



TAMAT

Senin, 29 Agustus 2011

Video Meteor Jatuh Di Peru

Video Meteor Jatuh Di Peru - Berita online di internet sekarang ini Video Meteor Jatuh Di Peru menjadi hal yang di bicarakan, karena banyak sekali orang ingin sekali mengetahui tentang Video Meteor Jatuh Di Peru terpercaya sehingga menjadi hal yang sangat berarti info ini dan memang menjadi suatu hal yang sangat perlusekali untuk bisa di ketahui banyak orang. Memang banyak sekali info yang menarik di internet sehingga kita bisa tau tentang info sekarang ini yang lagi melejit seperti Video Meteor Jatuh Di Peru dan banyak yang lainnya.

Sebuah fenomena alam mengagumkan terjadi yaitu jatuhnya meteor dari horizon yang disaksikan para warga Peru. Para ahli yakin, meteor yang jatuh di Peru menyebabkan kebakaran di hutan di selatan kota yang dilanda kekeringan itu. Video metero jatuh di peru terlihat Berapi-api seperti manatahi kecil, video meteor merobek langit di kot Cusco, Peru, ini tampak menakjubkan. Peristiwa ini terjadi pukul 14.00 waktu setempat kemarin (26/8).

Untuk Lebih Lengkapnya anda bisa melihat di sini untuk videonya : Video Meteor Jatuh di Peru

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More