Rabu, 06 Juni 2012

VIDEO:Pedagang Kecil Di Sungai Brazil, Pertaruhkan Nyawa Demi Uang

VIDEO
VIDEO:Pedagang Kecil Di Sungai Brazil, Pertaruhkan Nyawa Demi Uang

Jauh di belahan dunia lain, ada sistem perdagangan yang unik dan berbahaya di Amazonia dengan pedagang anak-anak yang mempertaruhkan hidup mereka untuk beberapa sen.

Sepanjang bentangan sempit Sungai Tajaparu di Amazonia, utara Brazil, merupakan tempat berdagang anak-anak dengan kano. Barang yang didagangkan beragam dari permen, madu hinga hasil alam sekitar. Namun anda akan tercengang dengan apa yang mereka lakukan ketika berdagang.
Anak-anak ini menunggu kapal feri yang biasa mengangkut penumpang lokal atau wisatawan melintas. Jika kapal feri tersebut melintas, serentak beberapa anak dengan kanonya saling membahu mengejar feri dan berusaha mendekati kapal feri dari belakang.

Alat yang digunakan hanya tali yang diikatkan pada belakang kapal feri. Pertaruhan nyawa. Selain mereka harus mengimbangi agar kanonya tidak terbalik, mereka juga harus hati-hati agar tidak terkena baling-baling kapal feri, belum lagi derasnya hembusan air feri yang menerpa tubuh kecil mereka.

Apabila mereka berhasil naik ke kapal feri, mereka langsung berupaya menjual barang dagangannnya kepada penumpang feri. Barang dagangan yang laris adalah ingas, yaitu buah hutan yang hanya ditemukan di sekitar ini hamparan sungai dan yang banyak diminati antara para penumpang feri. Buah ingas hanya ditemukan di bagian atas beberapa pohon, seringkali lebih dari 30 meter di atas tanah. Empat ingas dijual hampir $ 0,25.

Santos Sang kapten kapal Feri Yesus khawatir betapa nekatnya beberapa anak yang naik kapal feri. “Saya menyimpan daftar semua nama anak-anak.,” jelas Santos. “Ada begitu banyak sekarang, terutama yang kecil, kurang dari enam tahun”.


Sekitar selusin kano menempel pada kapal Yesus saat mendekati pantai, tapi sang kapten harus menjaga kecepatan kapal karean terikat dengan jadwal. “Saya membiarkan pihak berwenang tahu tentang mereka, karena berbahaya apa yang mereka lakukan, terutama pada malam hari,” katanya. “Saya memberitahu mereka untuk tidak melakukannya pada malam hari Pada siang hari, tidak apa-apa. ‘.”

Menurut pengakuan si anak yang sering berdagang, “ Kadang-kadang kita makan, terkadang tidak”. 14 tahun Jesse adalah salah satu pedagang kecil yang berisiko kematian hanya untuk mendapatkan beberapa sen.Sedikit uang yang dapat Jesse bawa ke rumah sebagai usaha memberikan bantuan nafkah kepada keluarga. Keluarganya terdiri dari 12 orang dewasa dan 16 anak yang tinggal di rumah panggung di atas air.

Kehidupan Jesse selalu dihabiskan di seputar sungai. Ibu Jesse, Benedicta, membangunkan dia setiap pagi untuk bekerja perahu sungai. “Suami saya terlalu tua untuk bekerja sekarang,” jelas Benedicta. “Kadang-kadang kita bangun di pagi hari dan tidak ada yang makan sepanjang hari.”Kami berharap akan ada sesuatu untuk hari berikutnya. Kadang-kadang kita makan, dan kadang-kadang kita tidak.”

Dalam cekungan Amazon, sungai-sungai adalah jalur transportasi utama untuk hampir segalanya. Sungai yang merupakan jalur terpenting untuk perdagangan, dengan tongkang membentuk sistem transportasi umum – bis, kereta dan trem semua bergabung jadi satu.

Dengan keahlian Jesse beralih kadi kapal kano ke kapal feri yang seberat 1500 ton yang melaju pada 30 km perjam, cukup memerlukan papan di haluan. Dan Jesse tahu pasti tempat yang aman untuk bersandar. Yang paling sulit adalah kapal dagang dan kapal tongkang.
Dan untuk anak-anak dari daerah ini, apapun akan mereka lakukan mempertaruhkan nyawa hanya untuk menyambung kehidupan keesokan harinya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More